Kamis, 21 April 2016, 14:11
Marlin Agustina Rudi

Mengajar Memasak di 64 Kelurahan

Sejak suaminya dilantik jadi orang nomor satu di Batam lima minggu lalu, wanita ini juga jadi pusat perhatian. Marlin Agustina Rudi. Inilah sosok wanita hebat di balik kesuksesan seorang H Muhammad Rudi SE meniti karir hingga menjadi Wali Kota Batam. Di tengah kesibukannya menjadi Ketua PKK Kota Batam, ia menerima wartawan Posmetro, Selasa (19/4) lalu. 

“Dimana suami, di situlah tempat istri. Menjadi apapun suami, kita harus siap mendampingi,” kata Marlin Agustina Rudi yang biasa disapa Ibu Lin ini. 
Selain mengurus rumah tangga, praktis aktivitasnya makin padat. Jadi istri wali kota, bukan hal yang mudah.
Ibu delapan anak ini mengaku, terbiasa hidup sederhana. Ia sadar betul, tugasnya tidak hanya menjaga keluarga, tapi seluruh kota, terutama memberdayakan kaum hawa. Uniknya, Marlin kurang suka protokoler dan ia senang menyetir mobil sendiri. Sejak jadi istri wali kota ia mengaku tak ada yang berubah. 
“Tak ada yang berubah. Masih sama saja,” katanya. 
Mengemudikan mobil sendiri itu, menurut Marlina lebih awet muda, tidak cepat pikun. “Saya lebih suka nyetir sendiri. Itu juga saya sarankan ke Pak Rudi,” ujarnya. 
Marlin bercerita  soal pasang-surutnya kehidupannya bersama Rudi yang kini menjadi wali kota Batam. Dari Rudi masih jadi polisi, pengangguran, pengusaha, terjun ke politik hingga menjadi Walikota Batam. Petikannya:

Bagaimana Anda mendampingi Pak Rudi selama ini?
Mulai dari jadi polisi, pengusaha. Dan pernah juga pengangguran. Masa transisi setelah jadi polisi itu kan sempat nganggur. Awalnya, saya jumpa Bapak, di Tanjungbalai Karimun. Waktu itu umur saya masih 19 tahun. Saya nikah umur 20 tahun saat bapak masih polisi. Dulu kalau di kampong, kalau sudah ada yang mau ya kita menikah. Bapak lalu pindah tugas ke Batam. Kami kos di Sei Panas. Masih ada tempat kosnya sampai sekarang. Saat ngekos, sama sekali belum punya apa-apa dan dalam kondisi hamil pertama. Ya, mengalir saja, seperti itu.
Nah, kalau polisi ini kan sering pindah-pindah. Saat itu, kadang pindah ke Pekanbaru. Jadi saat itulah, Pak Rudi ambil keputusan untuk pensiun dini tahun 2004. Saya bilang, sudah siap semuanya? Pak Rudi malah balik tanya, saya siap apa nggak. Saya bilang, tempat istri dimana ada suami. Saya siap saja. 
Kami ambil keputusan untuk pensiun. Ini masa transisi. Benar-benar dari nol. Dari situlah Pak Rudi memulai untuk buka usaha. Modalnya kepercayaan saja. Alhamdulillah terbuka jalannya. Saya bersyukur saja, apa yang dikasih Pak Rudi, saya terima.

Apa yang terjadi saat suami Anda terjun ke politik dan jadi anggota DPRD?
Hingga suatu waktu, Pak Rudi mengatakan mau menjadi anggota dewan. Saya balik bertanya, apakah sudah siap. Masalahnya, menjadi anggota dewan itu harus siap melayani masyarakat, bertemu dengan masyarakat banyak. Akhirnya ya dijalani saja. Dan akhirnya terpilih. Lalu berjalan satu tahun, Pak Rudi ngomong lagi, katanya mau maju menjadi Wakil Walikota. Saya kaget dan bilang, jangan berangan lah.  Karena tidak pernah sampai berpikir ke situ. Tapi Pak Rudi mengatakan mau mencoba saja. Cuma saya bilang, terkadang apa keinginan kita itu, tidak selalu terpenuhi. Itulah yang saya tekankan, karena kecewa itu, lebih sakit rasanya. Tapi Pak Rudi mengatakan siap, saya pun siap.

Bagaimana tanggapan anak-anak?
Kami jalani saja. Saya pun ikut membantu. Kadang ikut pulang sampai larut malam. Dan anak-anak Alhamdulillah mendukung. Hingga akhirnya, Pak Rudi bicara lagi ke kami, istri dan anak-anaknya, menyatakan ingin maju menjadi Walikota. 
Awalnya, saya tidak setuju. Tanggung jawab menjadi pemimpin itu berat.  Tanggungjawabnya dunia dan akhirat. Kami kumpulkan anak-anak. Dan semuanya mendukung dengan mengucapkan Bismillah sebelum melangkah. 

Apa yang berubah setelah jadi istri walikota?
Tidak ada . Masih sama saja. Jadi apa pun suami saya ke depan, saya akan jadi diri saya sendiri.  Saya suka ke pasar, saya suka bersilaturahmi, bercanda. Saya tidak bisa mengubah ini. Saya tetap suka masak. 

Sampai sekarang masih memasak untuk suami?
Oh, pasti. Setiap sore. Itu rutinitas saya, jam lima atau jam enam saya telpon Bapak. Saya Tanya, ada acara tidak malam ini dan saya mulai memasak. 

Apa masakan kesukaan Pak Rudi?
Bapak itu tak suka masakan yang  macam-macam. Sukanya cuma sayur bening saja. Tidak suka yang santan-santan, goreng-goreng banyak minyak. Sawi atau bayam bening. 
Makanan bapak itu mudah. Tapi ya, harus saya yang masak. Saya usahakan sampai sekarang. 

Kegemaran ibu membuat kue sejak kapan?
Saya sejak SMA sudah jual kue. Zaman dulu itu, tetangga suka buat kue. Jadi saya yang keliling-keliling kampung, teriak-teriak jualan kue. Jadi sudah biasa, terbawa sampai sekarang di PKK. Jadi hobi sampai sekarang. Saya belajar buat kue sampai ke Jakarta dan Malaysia. Saya suka membuat kue dari bahan-bahan sekeliling kita saja.

Sebagai ketua PKK, apa keahlian Anda juga diajarkan ke ibu-ibu lain?
Ya Pasti. Saya tidak berorientasi uang. Saya punya ilmu ini, kita kembangkan bersama-sama. Saya selalu bagikan pengetahuan membuat kue ini kepada semua. Saya sudah ajarkan ke 64 kelurahan bahkan sampai RT/ RW. Saya mengajar membuat berbagai kue sampai ke Lapas di Barelang. 

Dalam karir pak Rudi, mana yang paling berkesan buat Anda?
Saat jadi polisi. Saat bapak jadi polisi, saya bisa bawa mobil sendiri. Saya suka bawa mobil sendiri.  Bahkan saya pernah ditilang polisi, waktu bapak jadi polisi. Tapi saya tak ngomong kalau saya istri Pak Rudi. Alhamdulillah, sampai saat ini saya masih terus berhubungan baik dengan ibu-ibu Bhayangkari.

Di Batam banyak terjadi kasus Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT). Pendapat Anda?
 Suami saya orangnya keras. Orang banyak tanya, bagaimana di rumah. 
Saya bilang saya tidak pernah ada masalah yang sampai pada kekerasan. Suami saya orangnya tegas. Sekali tidak, tetap tidak, begitu juga sebaliknya. Nah, kalau bapak mungkin lagi marah, ya saya diam. 

Walau pun terkadang ini bukan kesalahan istri. Sampai suasana sudah nyaman kembali baru dibicarakan. Jadi, menurut saya, sebagai istri harus pandai melihat situasi, supaya tetap aman dan nyaman. Kedua belah pihak harus bagus komunikasinya. Jika kita berpikir negative, kejadiannya juga bisa negatif. Jadi ya berpikir positif dan komunikasi menjadi kuncinya.

Apa yang harus dilakukan kaum perempuan di Batam untuk kemajuan Batam?
Menggalakkan Usaha Kecil Menengah. Sebab, imej Batam sudah bagus dan menjadi smart city itu tidak mudah. Saat ini PKK sedang menyusun dan membina usaha kerajinan agar bisa menjadi branding Batam. 

Batam dikenal sebagai kota wisata. Tapi, orang masih bingung wisata kemana. Menurut Anda?
Ini sudah saya usulkan bagaimana Batam memiliki suatu tempat khusus dimana wisatawan bisa berbelanja makanan atau kerajinan khas Batam. 

Apa saran Anda untuk istri –istri pejabat?
Hiduplah sederhana dan apa adanya. Jangan jaga imej (jaim). Dibalik kesuksesan suami, ada istri yang mendampingi. Jadi terkadang, tingkah istri pun akan menjadi ukuran pemimpin itu.

Bagaimana Anda menilai Pak Rudi?
Pak Rudi itu orangnya tegas. Meski sekarang jadi walikota, ia masih mau membuatkan susu dan juga mengganti popok anaknya yang paling kecil.

Anda ikut berperan dalam tugas suami. Apakah Anda juga mempengaruhi kebijakan suami sebagai Wali Kota?
Dari dulu saya tidak pernah ikut campur soal pekerjaan Bapak, apalagi kebijakan.

Misalnya, mempengaruhi menentukan kepala dinas?
Tidak pernah. Tidak bisa saya ikut campur itu. Ya saya urus anak, dan semua keperluan Bapak Rudi. Dari dulu, sejak Bapak jadi polisi, saya  tidak pernah ikut campur urusan kantor suami. ***