Kamis, 21 April 2016, 14:25
Dra. Rekaveni Soerya

Perempuan Harus Melek Politik

Jadi politisi tak pernah terlintas di pikirannya, meski ia jebolan Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Indonesia. Namun,  keinginan mengabdi buat masyarakat mengubah jalan hidup Dra Hj Rekaveny Soerya. Ia pun terjun ke dunia politik dan kini dua periode menjadi anggota DPRD Kota Batam.

Aktif di berbagai organisasi sosial kemasyarakatan dan pendidikan, menjadi anggota dewan dan mendampingi sang suami, DR HM Soerya Respationo, SH, MH, tak membuatnya melupakan kodratnya sebagai seorang perempuan. Ibu empat anak ini tetap bisa berbagi waktu, untuk keluarga dan untuk masyarakat.

Ketua Iluni UI ini berharap, agar kaum perempuan lebih kreatif dan inovatif. Menjadi ibu rumah tangga itu sudah kodratnya, tapi perempuan juga harus bisa mandiri. Menghasilkan uang tidak harus di luar rumah, di dalam rumah pun bisa asal kreatif. Perempuan kelahiran, Jakarta 7 Juli 1964 ini pun berbagi kisah hidupnya kepada wartawan Posmetro; Haryanto, Nur Syahrullah, dan Hery Sembiring.  Petikannya;

Apa motivasi Anda terjun ke dunia politik?
Awalnya saya tidak berkecimpung di dunia politik. Sekolah saya memang di ilmu sosial dan politik, tapi saya mengambil jurusan di bisnis. Jadi, saya tidak kepikiran ke politik. Karena suami kan sudah di politik, jadi saya lebih ke bisnis. Tapi seiring berjalannya waktu saya diminta oleh Pak Ruslan Kasbulatov dan Pak Jumaga Nadeak, agar saya masuk menjadi pengurus di PAC Batam Kota. Saya bilang, waktu itu saya nggak mau di politik karena bapak sudah di sana. Tapi kebetulan saat itu ada kuota 30 persen untuk perempuan. Dan mereka kan sudah biasa lihat saya aktif di organisasi perempuan. Waktu itu saya Ketua Piswan organisasi istri dewan. Jadi mereka minta saya. 

Anda langsung terima tawaran itu?
Tidak. Awalnya saya tolak. Lalu Pak Soerya bilang, ah, kamu itu sombong banget disuruh masuk kok tak mau. Akhirnya ya, saya terpaksa masuk. Saya sempat berpikir, waduh bagaimana dengan anak-anak saya kalau saya terjun ke politik. Apalagi, pandangan saya di PDIP itu kan terkesan garang-garang. Bagaimana saya harus memimpin. Kebetulan, saya memang calon tunggal untuk Ketua PAC Batam Kota. Akhirnya saya jalani. Terus ada pencalegan dan saya masuk menjadi anggota DPRD Batam. Waktu jadi anggota dewan itulah saya belajar terus. Dan saya sudah lewati periode lima tahun pertama, dan kini saya masuk ke periode ke dua. Ternyata enak juga, akhirnya saya ada pekerjaan. Dulu kalau bisnis, kan suka-suka saya. Tapi setelah jadi anggota dewan kan ada tanggungjawab, harus ke kantor, harus mengunjungi masyarakat.

Siapa yang paling berperan mendorong Anda untuk terjun ke dunia politik?
Suami saya. Karena meskipun Pak Ruslan dan Pak Jumaga minta saya agar berpolitik, tapi kalau suami saya tak mengizinkan, kan tak mau saya. Tapi karena suami mendorong, ya sudah, saya terima apapun risiko terjun ke dunia politik.

Apa enaknya menjadi anggota dewan?
Dibanding di rumah enakan jadi anggota dewan. Kita pergi kerja ketemu teman, masyarakat, kita juga bisa punya link ke penguasa.

Gak enaknya?
Banyak proposal. Hahaha.... Dulu, sebelum jadi anggota dewan kita bisa ngapa ngapain. Setelah jadi anggota dewan ada gaji, tapi kenapa nggak ada duit.

Sebagai anggota dewan, apa yang sudah Anda lakukan untuk kaum perempuan?
Saya senang memberikan pelatihan untuk kaum perempuan. Saya pergi ke Kampung Dalam, ke Nongsa, ya saya sampaikan ke ibu-ibu di sana. Saya sebagai wakil rakyat hanya bisa mengarahkan apa yang mereka inginkan. Misalnya, mau cari uang, maka mereka harus punya skill. Nah, saya akan datangkan gurunya. Jadi saya ingin kaum perempuan itu bisa mandiri, punya skill, dan bisa mencari uang.

Anggota dewan perempuan cuma empat, ada perasaan canggung dengan anggota lain yang mayoritas pria?
Biasalah. Kebetulan anggota perempuan di komisi II ada tiga orang. Tidak masalah, malah bisa ketawa. Kan, laki-laki itu banyak yang lucu-lucu.

Sebelumnya suami Anda Wagub dan Anda jadi anggota dewan, bagaimana dengan anak-anak Anda?
Kebetulan, saat saya masuk dewan itu anak saya Bidadari yang bungsu sudah masuk SMP, jadi sudah agak besar. Apalagi, Batam kan kecil saja. Saya malah masih bisa antar anak saya ke sekolah.

Bagaimana membagi waktu antara kegiatan suami dan kegiatan Anda sendiri selaku anggota dewan?
Sebenarnya saya keteteran juga waktu itu. Di dewan itu kan ada rapat paripurna yang tidak boleh bolos. Terus, kalau ada kegiatan di Tanjungpinang pagi, siangnya saya langsung ke Batam untuk ngantor. Memang sih, ada beberapa kali kegiatan yang bentrok, misalnya ada paripurna tapi ada acara di pulau. Akhirnya, ya, saya harus pergi ke pulau karena sudah ada janji dengan masyarakat. Ya, keteteran lah, belum lagi saya juga ketua Iluni UI. Lalu ketua pengajian, KKS. Akibatnya memang saya jadi jarang kunjungan kerja.

Anda pendiri forum perempuan Batam?
Iya, itu merupakan organisasi pertama di Batam untuk kaum perempuan. Waktu itu saya sama Indina Ibrahim sebagai pendiri.

Apa tujuan forum ini?
Dulu, di Batam ini kan belum ada wadah bagi kaum perempuan untuk mengekspresikan diri. Jadi waktu itu kita kumpulkanlah kaum perempuan ini. Kita bikin semacam lomba busana, lomba masak, lomba bikin kotak kue. Kita kumpulkan jadi satu di asrama haji, sekalian launching. Nah, sejak itu kita bina. Misalnya di Tanjunguma, ibu-ibu butuh ketrampilan bikin bendera merah putih, kita turun ke sana.

Dananya darimana?
Karena kita masih swasta, ya dananya dari kita sendiri.

Masih ada sampai sekarang?
Masih, tapi bergeraknya di bidang UKM. Mereka ini kan sudah punya usaha, jadi kita memberikan fasilitas misalnya untuk pameran. Mereka juga kita berikan pelatihan untuk mengisi pajak. Kita juga memberikan pelatihan misalnya rias, potong rambut, dan sebagainya.

Organisasi apa saja yang Anda geluti?
Di bidang pendidikan saya di Iluni UI. Terus di KKS, ini lebih ke bidang sosial. Mengkoordinir kegiatan sosial yang ada di Kepri, di tujuh kabupaten dan kota. Sekarang saya jadi ketua jaringan rehabilitasi berbasis masyarakat. Ini di bidang disabilitas. Kalau di internasional CBR (community based rehabilitation). Dua tahun sekali ada kongresnya.

Apakah ini organisasi baru di Batam?
Betul. Satu-satunya yang sudah terbentuk baru di provinsi Kepri. Saya ketuanya. Kalau di pusat sudah ada ketuanya Pak Suranto.

Seperti apa Anda melihat emansipasi perempuan?
Dulu, di zaman RA Kartini, perempuan itu kan susah untuk mendapatkan pendidikan. Sehingga Ibu Kartini memberikan pendidikan untuk kaumnya dengan sekolah di bawah pohon. Tapi sekarang kan sudah banyak kaum perempuan yang sekolah tinggi, yang sudah sarjana. S1, S2, S3. Sekarang ini yang diperlukan adalah kreatifitas dan inovasi agar perempuan lebih maju. Dengan kesetaraan jender, bukan berarti kita harus sejajar di segala sisi dengan kaum lelaki, tapi tetap harus sesuai juga dengan kodratnya sebagai wanita. Perempuan bisa menjadi mitra bagi lelaki di semua bidang kerja.

Perempuan yang ideal itu yang seperti apa?
Perempuan itu tugas utamanya adalah mengurus rumah tangga. Tapi selain itu juga bisa mandiri. Dalam artian meskipun di rumah tapi tetap bisa bekerja. Dalam artian membuat ketrampilan seperti membuat bros, membuat cake pisang dan lainnya. Kan bisa dijual dan menghasilkan uang. Perempuan sekarang itu harus kreatif dan inovatif, bekerja itu tidak harus di luar rumah. Di rumah juga bisa makanya dibutuhkan skil.

Tingkat kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) pada kaum perempuan di Batam cukup tinggi. Tanggapan Anda?
Soal KDRT itu kan tak lepas dari soal ekonomi. Kehidupan di Batam ini memang keras. Apa-apa mahal. Kalau suami gajinya pas-pasan, istri kan bingung mau belanja. Di Batam bawa duit lima puluh ribu itu nggak dapat apa-apa. Bayangin itu. Kalau di Jawa dua puluh ribu itu sudah bisa untuk makan dari pagi sampai malam. Jadi suami stres, istri stres, ribut.

Apa resepnya biar hidup rukun suami istri seperti di keluarga Anda?
Saya dulu suka berantem juga kok. Tapi kalau saya lihat gelagat Bapak sudah marah banget, ya, saya langsung diam dan lari saja ke dapur. Gitu saja. Kalau dia marah, kita juga marah bisa bahaya. Sebagai perempuan ya, kita lebih mengalahlah.

Strategi apa yang bisa dilakukan kaum perempuan agar mengikuti jejak Anda terjun ke dunia politik?
Saya selalu mengajak ke setiap perempuan, harus melek politik. Karena dalam kehidupan kita ini semua kan ada politiknya. Saya selalu ajak kaum perempuan kalau mau terjun ke dunia politik, ya harus dimulai dari sekarang. Jangan ujug-ujug saat mau pencalegan baru maju.

Apa pengalaman berkesan selama aktif berorganisasi?
Banyak. Misalnya saat puasa, kita undang anak yatim, betapa banyak orang seperti ini. Kadang hati ini terenyuh melihatnya, kita hanya sehari saja bisa menyenangkan mereka. Terus pernah kita pergi ke sebuah pulau, pulaunya kecil. Ibunya main judi, nanti kalau tak punya duit anak gadisnya dijual ke tekong. Terus laki perempuan berhubungan seks sebelum nikah, lalu melahirkan anak di luar nikah. Saya lihat pemerintah belum turun tangan.

Untuk disabilitas?
Kita sudah studi banding ke Johor. Jadi ada satu tempat yang khusus orang disabilitas. Mereka datang bekerja terus digaji. Di sana ada satu perusahaan yang menanggung satu anak disabilitas dikasih 5.000 ringgit setahun. Terus ada perusahaan yang menyumbang makanan, CSR-nya. Saya ingin di Batam ada juga misalnya perusahaan yang memberikan CSR untuk biaya transpor anak-anak disabilitas.

Anda sibuk. Masih sempat memasak buat suami dan anak-anak?
He..he..he. Pagi-pagi itu, pembantu saya itu saya yang ngajari masak. Cara bikin dendeng, sayur daun singkong. Mereka ini sudah jago. Kadang-kadang, Bapak kalau malam mau makan nasi goreng atau mie, itu saya yang bikinin. Pak Soerya itu makan di rumah paling pagi sama malam saja, kalau siang itu tidak makan di rumah.

Apa makanan kesukaan suami Anda?
Kalau Bapak itu sukanya telur dadar, nasi goreng, doyan banget itu hehehe. Oseng-oseng. Hobinya makan mie, tapi sekarang sudah agak berkurang. Pak Soerya itu makannya nggak suka yang macem-macem. Nasi goreng yang penting dikasih kornet dikasih abon, kerupuk, sudah.

Makanan apa yang tidak disuka?
Bapak ini kan orang Jawa, ya, sukanya yang makanan Jawa. Kalau yang pakai santan-santan tidak suka. Apalagi pakai petai sama jengkol. Tidak mau banget.

Tapi punya kebun jengkol?
Iya, tapi saya yang suka, hehe... Itu pohon petai dan jengkol itu saya yang bawa dari Jogya, ada 30 pohon. Nggak ada tempatnya kan untuk nanam, saya tanam saja di halaman rumah. Bapak protes, masak halaman rumah ditanam petai jengkol.

Apa hoby Anda?
Baca, nonton film. Sosialisasi untuk ketrampilan ibu-ibu.

Tokoh idola siapa?
Kalau di Indonesia, ya Ibu Megawati. Kebetulan saya memang di PDI-Perjuangan. Beliau ketua partai terlama di Indonesia. Biarpun perempuan tapi punya kapasitas.

Musik senangnya yang seperti apa?
Musik senang yang energik. Mau lagu Barat lagu ST12, pokoknya energik. Kalau Pak Soerya senang yang lagu melow, seperti Rinto Harahap.

Enak mana menjadi istri Wagub dengan sekarang?
Istri Wagub itu kan ada prestise. Sebenarnya senang juga suami memimpin, tapi tak jadi Wagub pun pekerjaan suami pasti saya dukung. Jujur sekarang malah lebih enak. Dulu saat Wagub, pagi-pagi sekali jam enam suami sudah harus ke Punggur, jadi pagi-pagi sekali saya sudah siap-siapin untuk suami. Sekarang lebih santai. Bapak sekarang kalau keluar paling-paling jam 10 pagi. Bapak juga terlihat lebih santai.

Apa sekarang kegiatan suami Anda?
Sekarang lagi benahi kebun, terus membenahi warung bakmi Jawa, juga kantor firma hukum.

Ada tidak masalah setelah suami tidak menjadi Wagub?
Tidak. Saya sih biasa saja. Dari dulu saat Bapak masih Wagub saya juga seperti ini. Makan mie ayam di tepi jalan dengan teman-teman sudah biasa.***