Selasa, 27 September 2016, 12:30
HUT Provinsi Kepri ke-14

Tak Hanya Pembangunan, Tapi Pemerataan Kesejahteraan


Posmetro.co: Kalau tiba-tiba dalam sehari Gubernur H Nurdin Basirun bisa hadir di berbagai kota, itu memang sebuah keharusan. Keharusan bertemu dengan rakyat, keharusan menyelesaikan berbagai persoalan kemasyarakat. Juga sebuah keharusan agar apa yang diagendakan untuk kemaslahatan Kepulauan Riau berjalan sesuai rencana.

Tengoklah pada 14 dan 15 September 2016 lalu, Gubernur Nurdin "terpaksa" menyinggahi berbagai daratan dengan beragam agenda. Jika pada pukul 10.00 WIB Gubernur menghadiri Paripurna SOTK di Kantor DPRD Dompak, sore harinya, tepat pukul 16.00 Nurdin harus mengikuti 
pembahasan Sail Selat Karimata di Kantor BPPT Jakarta bersama Menko Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan. 

Sail Selat Karimata yang di dalamnya ada iven Festival  Bahari Kepri menjadi kegiatan penting untuk semakin memperkenalkan pariwisata Kepri di dunia yang lebih luas. Semakin ke depan, industri kepariwisataan inilah yang memiliki peran penting pergerakan ekonomi di Kepri.

Apalagi, dalam pertemuan itu, Menteri Luhut melihat, Kepri menjadi daerah yang paling siap dengan iven ini. 

Selesai di Jakarta, Nurdin tak berlama-lama di ibu kota, karena pada Kamis 15 September, tepat pukul 10.00 Paripurna Jawaban Pemerintah terhadap Pandangan Fraksi tentang Perangkat Daerah di Kantor DPRD Dompak.

Usai di DPRD Kepri, Gubernur Nurdin harus hadir di Karimun, membuka iven Liga Nusantara. Mantan nakhoda kapal ini ingin dunia olah raga Kepri terus mengalami peningkatan dan mampu  berbicara di berbagai iven, baik regional, nasional dan internasional. Olah raga selalu mampu membawa nama baik suatu daerah.

Tak heran dalam kesempatan kunjungannya sebelum pembukaan PON di Bandung, Nurdin mengutarakan niatkan untuk menjadikan Kepri tuan rumah PON 2024. Karena Nurdin yakin, dengan menjadi tuan rumah, pembangunan akan semakin cepat dan investasi yang masuk juga terus meningkat.

Di hari yang sama pada 15 September itu, Gubernur harus ada di Batam. Berbagai agenda telah menanti. Sesaat usai tiba di Batam, Gubernur sudah ditunggu civitas akademika Unrika. Dalam pertemuan pada malam itu, Gubernur terus memotivasi mahasiswa sebagai generasi penerus Kepri, untuk menjadi generasi yang handal, petarung, inovatif, kreatif, terus bekerja keras. Tetapi tetap mendekatkan diri pada Yang Maha Kuasa.

Gubernur memang masuk ke kampus-kampus sambil terus berpesan agar generasi muda Kepri juga generasi yang sehat dan terhindar dari ancaman bahaya narkoba yang sudah merambah ke berbagai sektor. Bagi Nurdin, narkoba adalah bahaya, harus dijauhi dan dimusnahkan.

Usai acara di Unrika, Gubernur masih harus memenuhi dua agenda lagi. Salah satunya bersilaturahmi dengan tokoh masyarakat Batam sambil makan malam. Karena harus menjelajahi sejumlah daerah dan memenuhi berbagai agenda, pertemuan yang seharusnya pada jam makan malam tang normal, terealisasi dini hari. Jadinya seperti sahur bersama.

Meski beraktivitas hingga larut, Nurdin tetap memulai agenda sejak subuh. Bupati Karimun 2005-2015 ini selalu memulai hari dengan safari subuh. Apalagi dalam kunjungannya ke berbagai daerah di Kepri, safari subuh jadi semacam kewajiban. 

Selalunya, kegiatan subuh ini tanpa pendampingan. Nurdin melihat, aspirasi yang didapat dari pertemuan-pertemuan setelah istirahat malam itu selalu "lebih original". Malah sepanjang Ramadhan 1437 H lalu, lebih 100 masjid disinggahi Nurdin.

Kadang setelah subuh, Nurdin selalu menjemput aspirasi dengan ngopi bersama. Terkadang ngopi bersama masyarakat "on the spot" di kedai kopi, kadang juga bersama tokoh masyarakat. 

Pertemuan-pertemuan informal itu, menurut Nurdin, kadang bisa menggali dan menyelesaikan banyak masalah. Malah dalam suatu kesempatan, pagi-pagi lagi ada pengusaha "mengadu" tertang berbagai kendala dan mimpi ingin mengembangkan usahanya. Nurdin cepat tanggap dan berupaya cepat menyelesaikannya.

Masalah yang terjaring lewat jalur-jalur informal, namun untuk menyelesaikannya, tetap sesuai aturan yang berlaku. Tapi, Nurdin selalu berpesan: harus cepat.

Tak heran kalau dalam berbagai kesempatan ngopi bersama, sejumlah tokoh masyarakat meminta Gubernur Nurdin untuk terus menjaring aspirasi masyarakat lewat jalur-jalur informal. Aspirasi yang terjaring, diharapkan dapat dipenuhi sesuai dengan prioritas dan kemaslahatannya untuk kepentingan masyarakat.

Silaturahmi dan penjaringan aspirasi lewat jalur-jalur informal, memang sering dilakukan Nurdin sejak lama. Bagi Nurdin, banyak informasi yang didapat dari pertemuan-pertemuan informal ini.

Gubernur, yang biasa memesan teh tarek dan prata ini, mengatakan, tak harus pertemuan-pertemuan formal untuk menyampaikan aspirasi.

Silaturahmi yang terbangun dengan semua level masyarakat sangat penting. Nurdin mengistilahkan itu dengan nama konektiviti hati.

Dengan konektiviti hati, Nurdin yakin akan terbangun kebersamaan dengan semua lapisan masyarakat. "Kalau bersama, segala permasalahan bisa kita selesailah dengan mudah," kata Gubernur.

Asal untuk pembangunan yang bermuara bagi peningkatan ekonomi masyarakat, Nurdin ingin terselesaikan dengan cepat. Cepat selesai, segera pula masyarakat merasakan manfaatnya.

Karena Gubernur melihat, membangun tidak hanya mengejar pertumbuhan, tetapi juga pemerataan kesejahteraan. "Dengan merata, semua bisa menikmati," kata Nurdin, yang pada 24 September kemarin memenuhi enam kegiatan di Tanjungpinang.

Apalagi Kepri dengan 2.408 pulau. Semua daerah, secara perlahan harus terbangun dan saling mendukung. Agar tidak hanya satu kabupaten kota saja yang mengalami percepatan pertumbuhan dan pemerataan kesejahteraan. Tapi harus semua.

Karena itu, Nurdin ingin daerah fokus dengan keunggulan masing-masing. Saat ini misalnya Lingga fokus dengan pertanian dan perternakannya. Dengan fokus, sambutan Menteri Pertanian dengan mengucurkan dana kegiatan juga langsung tampak. Sebab, ini juga pesan Presiden Joko Widodo, agar daerah-daerah fokus dengan keunggulannya. 

Dalam kunjungan-kunjungannya ke daerah, Gubernur selalu menyampaikan hal ini. Ini juga bagian membangun konektiviti hati dengan seluruh masyarakat Kepri. Di mana pun mereka berada.

Sementara, untuk konektiviti infrastruktur, Pemprov Kepri terus mengesanya dengan berbagai cara. Baik dengan APBN, APBN ataupun mensenergikan sumber dana resmi dan sah.

Bagi Nurdin, pemimpin itu harus mensejahterakan rakyatnya. Itu pula pesan yang disampaikan KH Anwar Zahid dalam sebuah acara menyambut Tahun Baru Islam 1438 H di Pondok Pesantren Roudhatul Quran, Tanjungpiayu,  Batam, pertengahan September lalu yang juga dihadiri Nurdin.

Dalam kesempatan itu, KH Anwar Zahir menyampaikan, pemimpin itu harus suci hatinya, lurus niatnya, agar dicintai oleh umat, dicintai oleh rakyat.

"Asal bersih hatinya, lurus niatnya, pasti dicintai rakyat. Tak perlu berkoar koar. Pemimpin itu harus mensejahterakan rakyat," kata KH Anwar Zahid.

Untuk mensejahterakan rakyat, Anwar Zahid mengatakan pembangunan spritual menjadi sangat penting. Kyai dari Jawa Timur ini pun mengilustrasikam lagu kebangsaan Indonesia Raya. Di situ dengan jelas tertulis bangunlah jiwanya, bangunlah badannya, untuk Indonesia Raya.

"Membangun jiwa baru membangun badan
Pembangunan spritual harus jadi skala prioritas kalau mau masyarakatnya sejahtera," kata KH Anwar Zahid.

Safari subuh, serta terus membangun konektiviti hati dengan seluruh masyarakat Kepri, barangkali, menjadi upaya-upaya Nurdin "menterjemahkan" bangunlah jiwanya bangunlah badannya.

Apalagi Provinsi Kepri sudah 14 tahun. Tentu tiap tiba saat hari jadi, kerap terdengar kabar untuk Kepri: ekonomi terus tumbuh, pemerataan kesejahteraan masyarakat meningkat di berbagai ceruk Kepri. (jho)