Selasa, 06 Juni 2017, 21:02

Teropong Senja di Lensa Azizah

NAMANYA Azizah. Hari Kamis tanggal 25 Mei kemarin, usianya genap 14 tahun. Dia terlihat bahagia. Sambil duduk di bibir kolam ikan di belakang kantor Pemerintahan Kota Batam, Senin (5/6/2017), Azizah nampak mengayun-ayunkan kedua kakinya. 

Menjelang magrib itu, pelajar yang masih duduk di bangku kelas V di Sekolah Luar Biasa (SLB) Negeri Batam di Legenda, Kecamatan Batamkota itu nampak melepas penat. Bersama delapan orang temannya sesama pelajar SLB, senja itu Azizah baru saja usai belajar memotret. 

Mereka dibawa oleh Natalie, pihak Yayasan Maria Monique Lastwish ke Dataran Engku Putri untuk berlatih fotografi on the spot. Waktu yang diberi tidak lebih dari satu jam. 

Sebelumnya, disabilitas lain nampak keren memegang kamera DLSR yang dipinjamkan abang-abang Pewarta Foto Indonesia (PFI) Kepri. Dengan segala keterbatasan mereka berusaha mengotak-atik alat penangkap gambar tersebut. 

Cuma Azizah yang terlihat beda sore itu. Terbatas dengan indra penglihatannya, belia yang masih mengenakan seragam batik gonggong berwarna ungu itu justru tak ingin kalah juga dengan temannya yang lain. "Azizah mau nyobain kamera?" tanya Aulia Ichsan, abang Pewarta Foto yang diminta untuk mengajarkannya memotret. 

"Mauuuu," jawab Azizah kegirangan. Sambil melangkah, pria yang akrab disapa Icank itu berusaha menuntun gadis berkerudung tadi menuju anak tangga. Langkahnya satu-satu. Setiba di anak tangga ke empat, mereka duduk sambil menghadap ke arah Barat membelakangi kantor Walikota. 

Jurnalis koran POSMETRO itu awalnya sedikit menaruh keraguan. Karena orang yang akan diajarkan nya itu sama sekali tidak bisa melihat. Beda dengan disabilitas lainnya. Meski ada kekurangan, tapi sudah tahu bentuk kamera dan objek apa yang akan mereka foto.

 "Azizah tahu apa itu kamera?" tanya Icank lagi sebelum mengasih pinjam kameranya. "Tahu. Kamera itu seperti HP kan, bisa untuk motret, untuk dengarkan musik, murottal. Gitu ya?" kata Azizah berbalik tanya. 

"Terus HP itu bentuknya bulat," tambah dia meyakinkan. Tidak ada yang salah dari jawaban anak sepolos Azizah. Cuma setelah dikasih pegang sebuah smartphone, Azizah baru menyadari kalau HP itu sebenarnya tidak bulat. "Berbentuk persegi dan tipis ternyata," ungkap warga Batamcentre itu sambil mengaku baru pertama kalinya memegang HP. 

Lelaki gondrong berkacamata itu terenyuh dengan kata-kata Azizah tadi. Hingga dirinya baru sadar kalau untuk mengajarkan Azizah perlu dengan hati. Sebelum sampai ketangan Azizah, satu persatu dari bagian kamera yang dibawa tadi dikenalkannya.

 "Kamera itu ada dua bagian, yaitu lensa dan body," terang Icank kepada Azizah yang berusaha menyimak. Setelah "digerayangi" seluruh bagian kamera itu, Azizah langsung sumringah. Meskipun tak bisa melihat, tapi Azizah mengaku kalau kamera yang dia dengar selama ini layaknya teropong. "Seperti teropong panjang ya. Nengoknya ngintip gini ya?" katanya sambil bergaya ala fotografer membidik dibelakang lensa. 

Setelah mengenalkan seluruh bagian kamera tadi, Azizah berusaha mengarahkan mata lensa tadi ke objek di depannya. "Di depan kita ada bangunan menyerupai masjid, kemudian pemandangan langit dengan sunset nya," tambah Icank menjelaskan objek yang akan dijepret Azizah. 

Bagi Azizah memang tak ada objek yang bisa dilihat. Tapi dengan pengetahuan seadanya, dengan telunjuk yang sedikit gemetaran memencet tombol shutter, Azizah bisa mengabadikan suasana sunset di langit Batam. Dia pun senang setelah diberitahu hasil jepretannya itu. Tapi bukan itu yang membuatnya lebih bahagia. "Saya baru tahu HP itu bentuknya persegi, kamera itu bentuknya seperti teropong," pungkas gadis yang bercita-cita ingin menjadi da'i itu. 

Natalie, mengatakan tema untuk fotografer disabilitas itu adalah perdamaian dunia. Kata dia, Agus  Gozali yang mencentuskan ide fotografi disabilitas Yayasan Maria Monique Lastwish. "Citilink juga mensupport kegiatan ini," ujar Natalie usai kegiatan. 

Lanjut dia, foto-foto hasil kursus memotret singkat tadi akan dipamerkan pada ulang tahun Eropean Union Asean ke 40 yang diwakili berbagai kota di Indonesia. "Kalau foto mereka laku terjual, uang nya akan kita serahkan kepada mereka yang punya hasil karya," tutupnya. (cnk)