Kamis, 15 Juni 2017, 05:20
Jika Masyarakat Hinterland Berharap Listrik PLN (bagian-1)

"Bayar pun Kami Setuju Asal Bisa Nikmati Listrik"

POSMETRO.CO-GALANG: Puluhan tahun penerangan Rempang Cate  hanya pakai lampu teplok. Kini pun cuma genset. Warga sangat berharap sekali wilayahnya masuk listrik PLN dan terang seperti Batam.

Rempang Cate masuk dalam Kecamatan Galang. Dari Batam ke Rempang Cate jaraknya sekitaran 60 kilometer.

Rempang Cate merupakan kelurahan terbesar, yang juga menyandang predikat sebagai kelurahan dengan penduduk terbanyak. 

Dari data BPS (2015), mencatat bahwa terdapat 4.332 jiwa penduduk di Kelurahan Rempang Cate. Luas daratanya sekitar 91,52 KM2. kepadatan penduduknya mencapai 38 jiwa per KM2.

Sementara itu, Suyatni, Spd, Lurah Rempang Cate menyebut data dari pihaknya jumlah warganya saat ini mencapai  978 KK.  Namun masih banyak yang belum terdata. Pekerjaan warga di sana pun mayoritas nelayan, berdagang dan bertani. "Setelah kita data, kebanyakan warga sudah lansia," ungkapnya.

Dari data di atas, dapat lihat bahwa sumber daya manusia yang ada di Kelurahan Rempang Cate sudah mumpuni secara kuantitas. Selanjutnya, yang menjadi pekerjaan rumah bagi masyarakat dan pemerintah meningkatkan sumber daya manusianya agar profesional.

Potensi sumber daya alamnya, objek wisata Rempang Cate sangat bagus. Beberapa potensi subsektor pariwisata terdapat di wilayah ini, misalnya potensi ekowisata bahari, agrowisata, wisata religi dan budaya.

Contoh wisata baharinya ada Pantai Pasir Panjang, Terumbu Kudi, Pantai Zore, Melayu, Kalat, dan Tanjung Kelengking dan lain-lain.

Sayang wilayah yang pontensi besar itu sampai saat ini wilayahnya belum dialiri listrik PLN. Warga di sana hanya mengandalkan mesin genset untuk penerangan  pada malam hari. Tapi mesin itu hanya bisa dipakai beberapa jam saja. Bahkan, warga mengaku tak sanggup untuk menanggung minyak genset jika dipakai terlalu lama.

Sanusi (52) warga Tanjung Batu, Kelurahan Rempang Cate berharap pemerintah memberikan solusi soal penerangan ini kepada warga hinterland. 

Sejak tahun 1993 tinggal di Rempang Cate, Sanusi hanya menggunakan listrik manual.
"Dulunya pakai lampu teplok, sekarang pakai ganset," beber Sanusi kepada media, baru-baru ini.

Menurut dia, beberapa bulan lalu pihak PLN sudah meninjau lokasi di sekitaran Rempang Cate. Bahkan saat itu, petugas PLN menawarkan agar warga memasang listrik dengan biaya pemasangan sebesar Rp28 juta untuk enam rumah.

"Kami sudah setuju itu dengan usulan PLN, asalkan kami bisa menikmati arus listrik," ucapnya.(jho/bersambung)