Sabtu, 17 Juni 2017, 09:55
Cerita TKI yang Melalui Jalur Ilegal

Demi Keluarga, 4 Jam TKI Terobos Hutan Malaysia

POSMETRO.CO-BINTAN: Para Tenaga Kerja Indonesia (TKI) akhirnya menepuh jalur gelap demi bisa berlebaran dengan anak istri di kampung. Selama empat jam mengadu nasib di hutan belantara Johor Malaysia, kini tertangkap aparat Indonesia.

Raut muka Azhar, salah seorang TKI asal Nusa Tenggara Barat (NTB) tampak lesu saat digiring Tim Western Fleet Quick Response (WFQR) Pangkalan Utama TNI Angkatan Laut (Lantamal) IV Tanjungpinang di dermaga Fasilitas Pemeliharaan dan Perbaikan (Fasharkan) Mentigi, Tanjung Uban, Bintan, Jumat (16/6/2017) siang.

"Tadinya mau pulang lebaran sama keluarga, tapi entahlah, kami sudah tertangkap," kata Azhar kepada POSMETRO.

Azhar sempat mengenang nasibnya saat berusaha pulang lewat jalur ilegal dari Malaysia ke Batam. Cara itu ia pilih karena memang tidak terdaftar sebagai TKI resmi ke Pemerintahan Indonesia.

 Kamis (15/6/2017), tepatnya selepas berbuka puasa, ia mulai melangkah meninggalkan tempat tinggalnya menuju hutan belantara negeri jiran. "Takut ketahuan sama polisi Malaysia," kata pria 36 tahun itu.

Menuju hutan pun tak semulus yang dipikirkan. Ia dan puluhan rekannya yang lain harus melewati jalur tikus untuk terhindar dari pantauan para aparat Malaysia. Selama 4 jam di hutan menurutnya tidak lama, lantaran hatinya gelisah takut ketahuan oleh polisi Malaysia.

"Kami tiba di hutan itu sekitar pukul 22.00, waktu Malaysia, saat itu perasaan kami pun takut, karena takut ketahuan, di hutan pun kami menunggu saat kondisi aman untuk menuju ke pinggir," katanya.

Usai kondisi aman, kata Azhar, mereka lalu dijemput oleh sejumlah tekong untuk menuju ke pantai dan langsung menuju ke Batam. Tragisnya, di hutan hingga sampai di pantai, urusan makan dan minum pun ditanggung sendiri. Padahal, mereka sudah membayar sekitar 800 ringgit Malaysia. 

"Tekongnya itu pun tak betul, kita awalnya disuruh bayar 600 ringgit, tahunya kita hitung-hitung, biaya keamanan kebersihan dan lainnya sampai juga 800 ringgit," tuturnya.

Kendati demikian, Azhar tetap bersyukur karena pengeluarannya untuk biaya perjalanan menuju Batam, gaji yang ia peroleh masih tertutupi. Selama bekerja sebagai buruh kebun sawit, ia mendapatkan upah sekitar 1.200 ringgit setiap bulannya. Namun, penghasilan itu tidaklah pasti.

"Alhamdulillah, ada juga uang sisa untuk saya bawa pulang," ucapnya pria yang mengaku sudah dua kali masuk ke Malaysia sebagai TKI.(bet)