Rabu, 16 Agustus 2017, 15:03

Kerja Sampai Malam Beresiko Jantung Lho

SEBUAH penelitian baru menunjukkan bahaya jantung tersembunyi yang diakibatkan oleh kerja hingga larut malam.

Orang-orang yang menghabiskan lebih dari 55 jam seminggu untuk bekerja mungkin memiliki peningkatan risiko pengembangan fibrilasi atrium, suatu irama jantung yang tidak teratur terkait dengan stroke dan masalah kesehatan lainnya, dibandingkan dengan mereka yang bekerja 40 jam atau kurang.

Analisis baru yang diterbitkan di European Heart Journal dan dipimpin oleh periset University College London, menggabungkan data dari delapan penelitian sebelumnya termasuk penelitian pada lebih dari 85.000 pria dan wanita dari Inggris, Denmark, Swedia dan Finlandia.

Tak satu pun peserta memiliki atrial fibrillation (juga dikenal sebagai AFib) pada awal penelitian, namun 1.061 orang mengembangkannya selama 10 tahun ke depan.

Angka tersebut setara dengan 12,4 kasus AFib per 1.000 orang dalam penelitian ini. Tapi ketika para peneliti melihat secara khusus pada mereka yang bekerja 55 jam seminggu atau lebih, tingkat itu melonjak menjadi 17,6 per 1.000 kasus.

Dengan kata lain, mereka yang menghabiskan waktu lebih banyak bekerja adalah 40 persen lebih mungkin mengembangkan AFib, dibandingkan dengan mereka yang bekerja 35 hingga 40 jam seminggu, bahkan setelah hasilnya disesuaikan dengan faktor-faktor seperti usia, jenis kelamin, obesitas, status sosial ekonomi, merokok, penggunaan alkohol berisiko dan aktivitas fisik waktu luang.

Terlebih lagi, 90 persen kasus tersebut terjadi pada orang-orang yang belum pernah memiliki penyakit kardiovaskular.

Para peneliti menemukan bahwa 40 persen peningkatan risiko AFib mungkin bukan masalah besar, tergantung pada seberapa tinggi risiko keseluruhan seseorang terhadap penyakit jantung.

"Secara absolut, peningkatan risiko atrial fibrillation di antara individu dengan jam kerja yang panjang masih relatif rendah," kata para peneliti, seperti dilansir laman Health, Senin (14/8).

Tapi bagi seseorang yang telah memiliki beberapa faktor risiko seperti berusia lanjut, laki-laki, diabetes atau perokok, misalnya, setiap risiko tambahan bisa menjadi penting.

Para periset tidak bisa mengatakan bagaimana, tepatnya, waktu tambahan di tempat kerja bisa memicu irama jantung yang tidak teratur.

Tapi mereka menduga bahwa stres dan kelelahan bisa berperan, membuat sistem saraf kardiovaskular dan otonom lebih rentan terhadap kelainan.

Mereka juga mengatakan bahwa temuan juga bisa membantu menjelaskan, setidaknya sebagian, mengapa orang yang bekerja berjam-jam lamanya telah terbukti memiliki peningkatan risiko stroke.

Pasalnya AFib diketahui berkontribusi pada pengembangan stroke, serta gagal jantung, demensia terkait stroke dan masalah kesehatan serius lainnya.(fny/jpnn)