Senin, 09 Oktober 2017, 14:27

Birokrasi Salah Satu Penyebab Perusahaan Tutup di Batam

BATAM, PM: Kabar kembali tutupnya satu perusahaan di Batam, sangat disayangkan berbagai pihak. Seperti halnya Komisi IV DPRD Kota Batam, yang membidangi Kesejahteraan Rakyat dan Sumber Daya Manusia. Senin (9/10), Sekretaris Komisi IV DPRD Kota Batam, Udin P. Sihaloho meminta agar Pemerintah Kota Batam dan Badan Pengusahaan Batam cepat bersinergi agar kejadian serupa tak terulang.

Dijelaskan Udin, ada beberapa dampak yang akan terjadi jika perusahaan tutup. Bahkan ekonomi Batam bisa goyang, ketika banyak buruh yang diputus hubungan kerjanya (PHK) dan lapangan pekerjaan semakin sempit.

"Ada beberapa penyebab tutupnya. Pertama karena sepi order. Kedua, bisa karena persoalan birokrasi yang mereka hadapi," kata Udin.

Terlepas dari dua persoalan itu, Udin menilai perlunya ada sinergitas antara BP Batam dan Pemko Batam dalam memberikan pelayanan terbaik kepada investor dan masyarakat. Tinggalkan ego sektoral masing-masing.

"Intinya mari kita sama-sama memberikan pelayanan terbaik," ujar dia.

Udin juga memberi catatan kepada para pekerja di Batam. Melihat fenomena perusahaan tutup seperti ini, dia berharap kejadian perusahaan tutup, bisa menjadi pelajaran ke depannya. Sebab, bukan hanya sepi order yang menjadi faktor perusahaan tutup. Persoalan kondusivitas di dalam perusahaan jiga harus diperhatikan.

"Kalaupun serikat pekerja mau menuntut kesejahteraan, sesuaikan dengan kemampuan perusahaan. Jangan paksakan diri mogok atau melakukan sweeping," kata Udin.

Sebelumnya, melihat adanya industri yang kembali tutup, Wali Kota Batam, Muhammad Rudi, meminta agar pemerintah pusat bisa segera mendudukkan Batam, untuk mengetahui langkah apa saja yang harus dilakukan. Ia juga merasa, harus ada ruang baru untuk memutar perekonomian di Batam saat ini.

Dijelaskan Rudi, jika alasan PT. Sanmina SCI tutup karena sepi proyek, hal ini memang wajar. Pasalnya, jika tak ada orderan, perusahaan tentu tak bisa menggaji karyawannya.

"Dari kemarin tutup terus (perusahaan). Kita harus ciptakan proyek baru. Makanya kita minta pusat dudukkan Batam. Jadi, meskipun industri tutup berkesinambungan, masih ada penggantinya," ujarnya, silam.

Rudi merasa, pengganti industri manufaktur yang paling pas, adalah pariwisata. Oleh karena itu, ia berharap agar pemerintah pusat cepat mengambil keputusan, untuk masa depan Batam.

"Kita ciptakan ruang baru ini. Moga-moga pusat cepat ambil keputusan. Sehingga ini harus berjalan dan tak boleh berhenti. Sehingga ekonomi bisa kembali," pungkasnya. (iik)