Senin, 30 Oktober 2017, 10:35

Kenalkan Inilah Penyair Setengah Jadi, Amsakar Acmad

Amboi emak oii
Negeri kami
Hilang kemudi
Tak tentu arah
Makin menyayah

Amboi emak oiii
Negeri kami
Hilang pedoman 
Tak dapat pulang 
Ke pangkal jalan

Amboi emak oiii
Amboi..

Kau begitu memukau 
Berdelau
Berkilau
Membuat silau
Padahal kau
Adalah jazirah
Tempat mengunyah
Segala resah

BATAM, POSMETRO.CO : Penggalan puisi yang berjudul "Kidung Si Dodoi dengan lantang dibaca penyair setengah jadi Amsakar Acmad, saat launching dan bedah buku puisi Sung Sang, di Gedung Lembaga Adat Melayu (LAM) Batamcentre, Minggu (29/10).

Buku setebal 78 halaman ini berisikan kumpulan 30 puisi torehan tangan, Wakil Walikota Batam itu. Menurut pria kelahiran Lingga, 49 tahun silam, pengambilan nama Sung Sang diibaratkan anak yang lahir terbalik arah kaki dahulu baru kepala. Tentunya judul cover yang tidak lazim. Katanya ada alasan tertentu atas pilihan judul tersebut. 

"Ini hanya bentuk kreatifitas saya, saya bukan penyair jadi yang sudah dahulu makan asam garam. Makanya saya buat penyair 1/2 jadi. Kumpulan puisi ini relatif dipaksa jadi tercetuslah nama Sung Sang," ujar Amsakar.

Ketertarikannya terhadap syair melayu ini dimulai sejak duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP) di kabupaten bunda tanah melayu. Minatnya berkembang hingga kuliah di Universitas Riau (UnRi). 

"Saya tidak ada target berapa puisi, 30 ini sudah cukup banyak. Masih banyak catatan saya tulis. Minat saya menulis sudah ada sejak SMP di Lingga. Keterusan hingga sekarang", ulasnya.

Jelasnya rangkaian kata-kata setiap puisi mempunyai arti tersendiri baginya. Dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Seperti salah satunya "Surat-Surat Emak yang ia tulis di Pekanbaru, tahun 1991. Dimana masa itu Amsakar sedang dilanda gundah gulana saat menyelesaikan skripsi akhirnya waktu kuliah.

"Bingung itu yang bisa saya gambar saat itu. Makanya terciptalah puisi itu keluh kesah saya. Hanya mak saye tempat mengaduh, ia memberikan motivasi," jelas bapak tiga anak itu. 

Sebagai putra tempatan ditanah melayu, ia berupaya mentradisikan dan melestarikan puisi tersebut. Tentu setiap kata memiliki nilai bagi daerah dan arti bagi generasi. Untuk memberikan motivasi dan menumbuhkan minat terhadap puisi.

"Puisi Sunsang ini menarik, mungkin tak sebagus Rida K Liamsi. Tapi saya lihat da keinginan penulis untuk membuat. Ini menjadi motivasi bagi kita untuk menulis,"ambah Nyat Kadir, Ketua LAM Kota Batam. 

Pria yang juga anggota DPRD RI ini sempat menyumbang suaranya dengan membacakan puisi penyair 1/2 jadi berjudul "Doa Diakhir Masa". Sebutnya kumpulan puisi ini sudah lama di tulis oleh penulisnya hingga menjadi buku yang bisa dinikmati.

"Saya juga lahir SungSang, kata emak saya. Jadi buku ini bisa menjadi inspirasi bagi kita semua," pungkasnya.(hbb)