Rabu, 29 November 2017, 12:50
PGN Solusi Bisnis Laundry

"Pindah ke Gas, Kami Bangkit dan Berkembang Pesat"

SAMBIL menengadah kepalanya, Tomi memandang mesin cuci tinggi tidak jauh dari tempat duduknya. Sikap itu pertama kali diperlihatkan, saat Posmetro Batam, menemuinya di lokasi  JJ Laundry di Kampung Utama blok C no 12, Nagoya, Kota Batam, miliknya. Walau pertanyaan wartawan mengingatkan Tomi atas masa lalu usahanya, namun senyumnya tetap mengembang.

Generasi kedua keluarga Jimmy sebagai pemilk usaha JJ Laundry melempar senyumnya ke arah wartawan Posmetro, karena kini usahanya dikawasan bisnis Nagoya, berkembang pesat. Namun bagi Tomi, masa lalu itu tidak akan dilupakan, sebagai pembelajaran untuk dirinya sebagai generasi kedua dalam menjalankan bisnis cuci pakaian, agar responsif terhadap kebutuhan perkembangan zaman. 

Sebelum bercerita sukses yang dialami JJ Laundry saat ini, secara singkat, Tomi menceritakan pengalaman usaha keluarganya menjalankan bisnis. JJ Laundry yang sudah berdiri sejak tahun 1987 dan beroperasi seadanya dalam rumah kayu, kini sudah menempati bangunan besar dengan 34 karyawan dan belasan mesin raksasa penggiling cucian.

Namun pria berusia sekitar 27 tahun ini bersama keluarganya, selalu memiliki optimisme. Walau tidak ditampik jika pengalaman tahun 1998 dan 2016, cukup mengguncang keluarganya. Walau dua kali mengalami guncangan, namun Tomi selalu ingat semangat dan jerih payah Jimmy, orang tuanya dalam menjaga usaha bisnis cucian.

Tahun 1998 menjadi ujian berat bagi perekonomian Indonesia, karena krisis moneter. Perusahaan di Batam mengalami dampak, yang berimbas pada layanan layanan jasa cuci atau laundri. Ekonomi melemah dirasakan JJ Laundry. Kondisinya, usaha laundrinya sepi. Namun, keluarga ini tetap berusaha mempertahankan. 

"Kami hanya memiliki mata pencarian dari situ. Sebisanya, kami bertahan dan mempertahankan usaha orang tua," cerita Tomi, sambil sesekali melihat kearah pegawainya yang memasukkan kain ke mesin cuci bertenaga gas di JJ Laundry.

Berkat kegigihan mereka membangun jaringan dan kepercayaan pelanggan, usaha laundri ini kemudian bangkit. 
Namun di saat kebangkitan mulai menuai hasil lumayan, krisis kembali datang, tepatnya tahun 2016. Kali ini, faktor energi hampir menenggelamkan usaha ini.

Faktor harga minyak dunia yang turun, menggoyang dunia. Dampaknya pada industri elektronika hingga galangan kapal atau shipyard di Batam. Secara perlahan, pelanggan JJ Laundry kembali mulai sepi. Hal itu disebabkan banyak tempat wisata di Batam, termaksuk hotel yang biasa di penuhi pegawai galangan kapal dan tamu hotel mulai sepi.

"Dampak untuk kami juga sangat besar. Jasa cucian menurun drastis," ceritanya.

Sambil beranjak dari tempat duduk, Tomi kemudian mengajak Posmetro untuk melihat dan mengambil foto aktivitas karyawan di JJ Laundri. Diantara mesin cuci yang beroperasi saat itu, Tomi mulai menceritakan kebangkitan usahanya kembali. Kali ini, diakui faktor energi untuk menggerakkan mesin-mesin cuci itu yang membuat JJ Laundry bertahan, bahkan kini bangkit lagi.

Kini, JJ Laundry menggunakan energi dari gas bumi, dalam meggerakkan mesin-mesin cuci itu untuk membersihkan pakain pelanggan mereka. JJ Laundry beralih ke gas, tidak lepas dari kehadiran pihak PT Perusahaan Gas Negara (PGN) Persero ke lokasi usahannya.

"Mereka bukan kami undang. Tapi mereka berhasil mencuri perhatian kami melalui persentasi keunggulan gas," cerita Tomi.

Setelah presentase pihak PGN, hari itu, besoknya, minggu hingga bulan berikutnya tahun 2016 berlalu. Namun tekanan biaya operasional yang tinggi, terus mengingatkan Toni dan keluarganya pada presentase PGN sebelumnya. 

"Kami memang tidak langsung putuskan pakai gas. Tapi kami merasa, presentasi PGN itu masuk akal dan menarik," sambungnya.

Kehadiran pihak PGN sendiri ke lokasi usaha JJ Laundry, tidak lepas dari jaringan pipa gas bumi, sudah melewati wilayah tempat JJ Laundry beroperasi. Kemudian, Jimmy sekeluarga, termaksuk Tomi, mulai berembuk soal sumber energi untuk usaha mereka. 

"Setelah berembuk, kami memutuskan, menggunakan gas untuk energi mesin cuci. Kami beralih dari listrik ke gas, miliki PGN sebagai sumber energi," bebernya.

" Kami mulai pasang di awal bulan Januari 2017, dan sampai sekarang tidak ada masalah," kata Tomi. 

Jika sebelumnya JJ Laundry mengandalkan tenaga listrik dan LPG sebagai penunjang operasional heater (pemanas), dryer (pengering) dan uap, kini semua menggunakan gas bumi. Dampaknya, biaya operasional JJ Laundry hemat hingga 50 persen. Tomi sekeluarga serasa terbebas dari tumpukan beban dipundak. 

" Dampaknya luar biasa, setelah menggunakan gas bumi kami bisa menghemat 40 hingga 50 persen biaya operasional. Lega, beban dipundak seperti dibakar hangus oleh PGN," kata Tomi.

Kini, tidak hanya Tomi sekeluarga yang lega, namun 37 orang karyawannya. Karyawannya kini semakin optimis menghadapi masa depan, karena tidak khawatir kehilangan pekerjaan, karena usaha bangkrut. Demikian, Tomi dan karyawannya berharap perekonomian Batam cepat pulih dan bangkit lagi.

"Ekonomi lesu, kami masih optimis. Kalau ekonomi bangkit, kami akan merasakan dampak besar. Jumlah karyawan dan tunjangan bisa meningkat," ujarnya.

Tomi juga mengaku tidak khawatir soal gas, karena stok gas Kepri melimpah dan JJ Laundry dengan mudah mendapatkan. Mereka tidak perlu transportasi untuk mengangkut bahan bakar gas. Tinggal buka keran, JJ Laundry, bisa operasikan mesin.

"Kami memberikan yang terbaik untuk pelanggan, karena berkat gas dari PGN, cucian selesai tepat waktu," ujar Tomi sambil melempar tawa dan menantang calon pelanggan yang ingin membuktikan service JJ Laundry, tinggal membawa pakaiannya.

Setelah berkeliling dan menunjukkan mesin cuci yang beroperasi dengan digerakkan energi dari gas bumi itu, Posmetro akhirnya mengakhiri wawancara saat itu. Diakhir wawancara, Tomi mengajak pelaku usaha seperti hotel, restoran dan masyarakat di Batam, untuk beralih ke gas bumi atau biasa dikenal gas pipa. 

"Bukan mau promosi, tapi memang lebih aman, hemat dan praktis," imbuhnya mengakhiri. 

Ditempat terpisah, Sales Area Head PGN Batam, Amin Hidayat tidak menampik JJ Laundry sebagai pelanggan mereka. Amin mengaku cukup bangga atas penerimaan masyarakat umum dan dunia usaha di Batam, atas gas bumi.

"Sekarang, tidak hanya PLN Batam, hotel, restoran, UMKM, laundry dan kawasan industri yang menggunakan gas bumi. Masyarakat umum juga sudah ribuan menggunakannya," ungkapnya. 

Dimana, saat ini tercatat ada 4.670 lebih rumah tangga, 55 industri dan 28 komersil yang memanfaatkan gas bumi yang di kelola perusahaan BUMN itu. Untuk mendukung distribusi gas, PGN sudah membangun pipa distribusi gas bumi di Batam sepanjang 141,3 km.

" Kami berharap manfaat gas bumi bisa semakin banyak dirasakan masyarakat," harap Amin. ( Agus Bagjana)