Kamis, 28 Desember 2017, 11:34

Tanjungpinang Jadi Kota Tertinggi di Kepri Terkait Kasus Hukum Libatkan Anak

PINANG, POSMETRO.CO : Kasus hukum yang melibatkan anak di bawah umur, Kota Tanjungpinang tercatat yang paling tertinggi di antara kabupaten/kota lainnya di Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) pada tahun 2017 ini. Komisi Pengawasan dan Perlindungan Anak Daerah (KPPAD) Kepri menilai, tingginya kasus anak itu dikarenakan kurangnya pengawasan orang tua dan masyarakat terhadap aktivitas anak-anak di warnet.

"Tingginya kasus anak ini efek dari warnet, karena kehadiran warnet menimbulkan efek negatif bagi anak-anak," kata Ketua KPPAD Provinsi Kepri, Muhammad Faizal saat ditemui POSMETRO, Kamis (28/12).

Berdasarkan data yang dirangkum KPPAD Kepri, pada Januari hingga November 2017, tercatat Kota Tanjungpinang yang paling tinggi angka kasus yang melibatkan anak dibawah umur. Kasus ini baik anak sebagai pelaku maupun anak yang menjadi korban.

Untuk kasus anak sebagai pelaku tindak kejahatan atau anak yang berhadapan dengan hukum (ABH), Kota Tanjungpinang terdapat 10 kasus yang melibatkan 21 anak-anak. 19 diantaranya anak laki-laki, terdiri dari 14 anak-anak terlibat kasus pencurian, 3 anak kasus pencabulan dan 2 anak kasus kecelakaan lalu lintas. Sedangkan anak 2 anak perempuan terlibat kasus pencurian.

Kemudian disusul dengan kasus perlindungan anak. Pada tahun 2017, tercatat 29 kasus yang mana 41 anak menjadi korban, 18 anak laki-laki dan 23 anak perempuan. Untuk anak korban kejahatan seksual, tercatat sebanyak 13 kasus, 6 anak laki-laki dan 9 anak-anak perempuan. Kemudian menyusul kasus anak korban kekerasan dan penelantaran serta anak dalam kondisi darurat.

Selain Kota Tanjungpinang, Kota Batam menjadi urutan kedua kasus anak berhadapan dengan hukum yakni terdapat 6 kasus dengan jumlah anak sebanyak 18 orang. Selain itu, di Kota Batam, kasus yang perlindungan anak yang menjadi salah satu kota yang tertinggi di Kepri. Dari Januari hingga November, ada 16 kasus anak korban kejahatan seksual, kemudian 13 kasus kekerasan fisik dan 7 kasus penelantaran.

"Kalau kasus di Bintan, ABH ada 3 kasus dengan 6 orang anak terlibat kasus pencurian dan 1 anak kasus pencabulan, dan 4 kasus anak korban kejahatan seksual dan 2 kasus kekerasan fisik. Kalau untuk Natuna dan kabupaten lainnya, kasus anak mereka yang menanganinya, karena mereka ada KPPAD sendiri," kata Faizal.

Menurut Faizal, angka kasus yang terjadi sepanjang 2017 memang mengalami penurunan di bandingkan dengan tahun sebelumnya. Di tahun 2016,  jumlah kasus yang ditangani KPPAD Kepri sebanyak 198 kasus dengan anak menjadi korban maupun pelaku kejahatan sebanyak 296 orang. Namun, di tahun 2017, ada 146 kasus dimana 210 anak menjadi korban dan pelaku kejahatan.(bet)