Rabu, 10 Januari 2018, 15:20

Industri Di Batam Lesu, Ekonomi di Kepri Melambat

PINANG, POSMETRO.CO :Kementerian Keuangan RI Dirjend Perbendaharaan Kanwil Kepri, merilis bahwa secara umum, pertumbuhan ekonomi Kepri, mengalami perlambatan di tahun 2017. Terbukti, pada triwulan I,  perekonomian hanya tumbuh sebesar 2.02 persen, triwulan II, 1.04 persen. Lalu triwulan III, 2.41 persen. Jadi, diperkirakan, pertumbuhan ekonomi di Kepri sepanjang tahun 2017, hanya 2 hingga 2,5 persen saja.

Memang, untuk tingkat inflasi, masih dapat dikendalikan dan sudah ada di jalurnya. Sektor utama yang menjadi penggerak perekonomian Kepri 2017, antara lain, sektor industri manufactur, ekspor SDA, kontruksi dan perdagangan, yang didominasi Kota Batam. Imbasnya, perekonomian Kepri melambat, dan memberikan pengaruh cukup signifikan pada pertumbuhan ekonomi Kepri di tahun 2017.

Hal ini disampaikan Kepala Kementerian Keuangan RI Dirjend Perbendaharaan Kanwil Kepri, Heru Pudyo Nugroho pada awak media, di kantor Kanwil Kepri, km 8 Tanjungpinang, Selasa (9/1) kemarin.

Lebih lanjut dijabarkan Heru, mengenai realisasi pendapatan negara dari perpajakan, sebesar Rp5.6 triliun atau 72.62 persen dari APBN-P. Terdiri dari pajak penghasilan sebesar Rp4.4 triliun (67.83 persen) atau tumbuh negatif 15.3 persen. Pajak pertambahan nilai, sebesar Rp1.02 triliun atau tumbuh 38 persen dibandingkan tahun 2016. Pajak bumi dan bangunan sebesar Rp29.01 miliar, atau tumbuh sekitar 9.9 persen, dibandingkan tahun 2016. Pajak lainnya sebesar Rp86.28 miliar dari APBN P atau tumbuh 69.9 persen dibandingkan tahun 2016. 

Capaian ini, menurut Heru, menunjukkan kinerja yang menggembirakan dengan pengelolaan APBN yang kredibel dan sustainable, serta koordinasi antar instansi kementerian keuangan di Kepri berjalan baik. Sehingga pendapatan pajak masih dapat tumbuh di tengah perekonomian yang melambat.

Lebih lanjut ia menyebutkan soal pendapatan negara di sektor kepabeanan dan cukai. Tahun 2017 menunjukkan capaian yang sangat menggembirakan atau di atas 100 persen, atau sebesar Rp448.8 miliar atau tumbuh sebesar 24.46 persen dibandingkan tahun 2016. 
Dimana, tahun 2016, pendapatan cukai sebesar Rp8.6 miliar dari APBN P. Sedangkan  pendapatan bea masuk, sebesar Rp424.6 miliar (117.87 persen) dari APBN P atau tumbuh 22.2 persen dibandingkan 2016 dan pendapatan bea keluar sebesar Rp15.5 miliar (133.43 persen) dari APBN P atau tumbuh 85.8 persen dibandingkan 2016.(aiq)