Rabu, 14 Februari 2018, 15:44

Warga Perumahan putri Tujuh Enggan Lewati JPO

BATAM, PM: Sudah dua bulan Jembatan Penyeberangan Orang (JPO) di depan Perumahan Putri Tujuh, Kecamatan Batuaji dioperasikan. Namun, warga seperti tidak begitu antusias memanfaatkan fasilitas tersebut. Mereka memilih melewati jalan raya dengan resiko yang lebih tinggi.

Di ketahui, JPO ini dibagun oleh pemerintah Kota Batam pada akhir tahun 2017 lalu. Pengerjaan proyek membutuhkan waktu sekitar 2 bulan. Pantauan POSMETRO, JPO ini memiliki tiga tiang penyangga yang terbuat dari beton, sehingga terlihat kokoh, lantai serta tangga JPO di berikan kramik. Lalu di pinggiran jembatang di berikan teralis yang sudah di cat warna putih.

Sementara untuk malam, bangunan ini akan terlihat lebih indah lantaran di berikan cahaya lampu pada langit-langit JPO. Lambang Pemko Batam yang melekat  pada pagar JPO menjadi pelengkap keindahan bangunan

Yang tak kalah menariknya lagi, bagian bawah JPO, tepatnya di pembatas jalan dan drenase utama Batuaji sudah di berikan pagar besi. Meski cukup menarik, namun tetap juga JPO ini sepi.

Mardiana Hutapea(27) seorang warga menyebut, saat penumpang turun dari bus(angkot), mereka memilih melintas dari jalan raya. Hal ini memang sangat membahayakan, tapi mereka lebih memilih alternatif itu.

"Mungkin itu karena faktor kebiasaan saja, jadi warga memilih lewat dari jalan raya di banding melewati JPO," paparnya.

Mardiana Hutapea menyampaikan, setiap harinya ada ratusan warga yang akan menyeberangi jalan raya depan Putri Tujuh. Pasalnya, warga di sana kebanyakan anak kos dan bekerja di Mukakuning. Untuk menyeberangi jalan, warga melakukannya secara ramai-ramai.

"Mungkin warga belum pede untuk melewati JPO ini, soalnya belum terbiasa. Padahal kalau itu di gunakan, maka akan pebih nyaman saat menyeberang," papar dia.

Untuk membatu penyeberangan di jalan raya, biasanya supir angkot atau bus akan turun dan menyeberangkan sewanya. Sebagian supir lagi ada yang melawan aturan, mereka menurunkan sewa persis di pembatas jalan.

"Jalannya kan ada dua jalur, jadi supir angkot akan menurunkan sewa di pembatas jalan, otomatis ini akan menganggu arus lalulintas," sebutnya.

Menurut Mardiana Hutapea, pengadaan JPO ini memang sangat baik. Namun kesadaran dan pengertian masyarakatnya yang masih kurang. Harusnya petugas terkait memberikan imbauan agar warga menggunakan JPO di banding menyeberangi jalan raya.

"Apalagi pengendara di sekitar Batuaji ini sangatlah laju, kita juga tak ingin ada warga yang ditabrak saat menyeberang," tuturnya.

Hingga Rabu(14/2) siang, tak seorang pun warga yang terlihat lewat dari JPO ini. Padahal sudah jelas, JPO ini didirikan untuk membantu warga saat menyeberangi jalan raya.

"Mestinya harus di biasakan. Kalau sudah terbiasa melewati JPO, maka warga yang lain akan ikut melintas JPO ini," tutup Mardiana Hutapea.

Untuk di Kecaman Batuaji dan Sagulung, memang sudah ada 4 JPO. Salah satunya JPO depan Top 100 Tembesi. Biasanya, Mahasiswa Universitas Putera Batam akan menggunakan JPO ini sebagai alat penyeberangan.(jho)