Jumat, 16 Februari 2018, 14:42

BPS Tanjungpinang Pantau Pengaruh Pasar Modern Berbasis Online

PINANG, POSMETRO.CO : Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) melalui BPS Kota Tanjungpinang, akan melaksanakan Survei Biaya Hidup (SBH) di Kota Tanjungpinang. BPS mengklaim jenis komoditas atau barang dan jasa yang dikonsumsi oleh masyarakat jauh berubah dibandingkan dengan tahun 2012 silam, ditambah trend belanja masyarakat saat ini sudah berbasis online.

Hal tersebut disampaikan Kepala BPS Provinsi Kepri, Panususnan Siregar saat dialog interaktif di RRI Tanjungpinang pada Senin (12/2) pagi. Pada kesempatan itu, dihadiri Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Tanjungpinang, Riono bersama Kabag Ekonomi Setda Kota Tanjungpinang, M. Yamin.

Panususnan mengatakan, SBH ini sejatinya dilakukan 5 tahun sekali dan saat ini sudah dilaksanakan per 1 Januari hingga 31 Desember 2018 mendatang. Survei biaya hidup ini dilakukan dengan tujuan untuk merekam komoditas-komoditas barang dan jasa yang dikonsumsi oleh masyarakat Provinsi Kepri.

"Dulu, survei biaya hidup ini di update 10 tahun sekali, tapi seiring perkembangan zaman, nampaknya 10 tahunan ini terlalu lambat, maka kita buat 5 tahun sekali, ini sudah dilakukan sejak 2007, dan ini juga survei ke 8," ungkapnya.

Menurut Panususnan, SBH saat ini dinilai momentum yang paling tepat untuk memperbaiki data dan jumlah komoditas barang dan jasa pada tahun 2012 yang dikonsumsi oleh masyarakat Kepri saat ini. Sebab, komoditi yang dikonsumsi oleh masyarakat, baik itu barang dan jasa juga sudah jauh berbeda, sehingga data 2012 tidak lagi dijadikan bahan acuan untuk mengambil kebijakan.

"Ditambah, saat ini masyarakat itu mengkonsumsi atau membelanjakan barang dan jasa melalui media online. Kita akan tanyakan bagaimana mereka mendapatkan barang atau jasa itu, melalui pasar tradisional atau modern, karena kita ingin melihat dampak dari bisnis online ini. Nah, inilah yang akan kita lakukan di 2018 ini," katanya.

Panususnan berharap, pendataan SBH di Kepri ini menjadi data yang paripurna untuk merekam ragam komoditas barang dan jasa yang di konsumsi oleh masyarakat di tujuh kabupaten kota di Provinsi Kepri. Pada SBH ini, petugas akan menanyakan barang dan jasa apa saja yang dikonsumsi oleh rumah tangga yang terpilih, BPS hanya menggunakan teknik sampling.

"Jadi, kita akan tanyakan apa saja yang mereka belanjakan setiap bulannya, misalnya berapa banyak tomat atau ikan asin, daging yang dikonsumsi setiap bulannya, bahkan ke salon, pangkas rambut, servis sepeda motor, semua ditanyakan, detail sekali karena ini momentum memperbaiki jumlah komoditi di tahun 2012," ujarnya.

Untuk suksesnya SBH ini, kata Panususnan, pihaknya meminta kepada seluruh masyarakat serta pemerintah daerah untuk mendukung proses jalannya pendataan tersebut. SBH yang dilakukan pada tahun ini adalah SBH terpanjang yang pernah dilakukan BPS. Sebab, hal ini dilakukan guna melihat seberapa banyak jenis komoditas yang dikonsumsi masyarakat.

"Kita minta masyarakat yang terpilih sebagai sampeling SBH ini, menjawab dengan jujur, agar data yang kita peroleh benar-benar ril. Di 2019 kita tinggal memonitor bagaimana perkembangan harganya, di 2012" tuturnya.(bet)