Selasa, 20 Februari 2018, 19:22

Unjuk Rasa Rusuh, Dua Mahasiswa UMRAH Diamankan

PINANG, POSMETRO.CO : Aksi unjuk rasa yang dilakukan ratusan mahasiswa Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH) Tanjungpinang di kampus Dompak pada Selasa (20/2) siang berujung rusuh. Empat mahasiswa diamankan setelah puluhan anggota Dalmas Polres Tanjungpinang meleraikan menggunakan gas air mata dan mobil Water Cannon.

Pantauan POSMETRO di lapangan, situasi demonstrasi oleh mahasiswa dan mahasiswi UMRAH memanas ketika seorang Satpam kampus berusaha memadamkan api yang berasal dari pembakaran tiga ban mobil bekas. Ban tersebut dibakar oleh mahasiswa di depan Rektor UMRAH, Prof. Dr. Syafsir Akhlus saat berada di hadapan mahasiswa.

Awalnya, aksi demonstrasi yang dimulai pada pukul 09.00 WIB itu berjalan aman. Mereka juga sempat menyampaikan tuntutannya di depan rektor. Mereka menuntut rektor UMRAH untuk memperbaiki manajemen yang saat ini dinilai bobrok. Bahkan, mahasiswa juga menekankan Prof Akhlus, jika tidak bisa membenahi manajemen, maka diminta untuk mundur dari jabatannya.

Tuntutan itu pun belum sempat ditanggapi Prof Akhlus. Dia lalu meninggalkan mahasiswa yang mulai menyusun ban bekas untuk dibakar. Kala itu, mahasiswa tetap meminta rektor untuk tetap didepan pendemo tersebut. Namun tak digubris. Api yang melaphap ban bekas itu menimbulkan asap hitam yang tebal. Sejumlah pendemo pun menjauh dari area pembakaran ban tersebut.

Namun, aksi itu mulai ricuh ketika seorang Satpam memegang tabung alat pemadam api ringan dan menyemprotkan ke arah ban tersebut. Sontak, puluhan mahasiswa mengejar satpam itu hingga ia terjatuh dan pada akhirnya bisa menyelamatkan diri dari kerumunan mahasiswa tersebut.

Setelah itu, situasi unjuk rasa mulai memanas. Mahasiswa secara brutal menyeruduk masuk ke sekretariat, namun berhasil dihalang oleh satpam dan Menwa. Mahasiswa juga melemparkan batu dan botol plastik ke arah pintu masuk sekretariat. Beruntunngnya, kaca pintu kampus tersebut tidak pecah. Namun, sejumlah beberapa satpam terkena lemparan batu dan pot tanaman disekitar pintu hancur.

Emosi mahasiswa kian tak terkontrol dan situasi semakin memanas. Bahkan, kaca mobil dinas rektor pun pecah. Saat itu, anggota Polres Tanjungpinang yang menggunakan kendaraan raimas sudah bersiaga di depan kampus. Begitu juga dengan mobil Water Cannon yang sudah siap bergerak masuk ke arah unjuk rasa.

Setelah itu, Kapolsek Bukit Bestari bersama jajarannya melihat situasi tidak aman berusaha mendekati pengunjuk rasa. Namun, sebelum tiba, dia bersama anggotanya dihadang oleh mahasiswa. Kala itu, Kapolsek mundur dan diganti dengan anggota Dalmas berseragam lengkap.

Anggota Dalmas pun meleraikan mahasiswa. Mobil Water Cannon pun masuk ke area kampus dan menyemprotkan ke arah mahasiswa tersebut. Ratusan mahasiswa itu pun berhamburan. Polisi juga melepaskan temba gas air mata. Tetapi, sebagian mahasiswa memberontak. Pada akhirnya, empat mahasiswa pun berhasil diamankan polisi. Keempatnya dibawa ke dalam sekretariat kampus.

Jarum jam menunjukkan pukul 11.20 WIB. Situasi saat itu sudah mulai tenang, namun sejumlah mahasiswa tetap berusaha untuk membantu temannya yang diamankan polisi. Keempatnya pun dipertemukan dengan rektor dan berdialog disalah satu ruangan yang tertutup. Tak lama kemudian, Kapolres Tanjungpinang, AKBP Ardiyanto Tedjo Baskoro pun hadir pada pertemuan tersebut.

Ardiyanto menjelaskan, bahwa memang ada anggotanya mengamankan empat mahasiswa. Mereka dianggap memprovokasi mahasiswa lainnya. Namun, permasalahan itu selesai setelah keempatnya berdialog bersama rektornya. "Siapa bilang kita tidak bisa masuk ke area kampus, kalau terkait masalah pidana, itu sudah ranah kita. Karena situasi sudah tidak aman," tegas Kapolres Tanjungpinang.

Menanggapi hal tersebut, Rektor UMRAH Prof Dr Akhlus pun menerangkan, bahwa kejadian itu terjadi ketika mahasiswa mempertanyakan komitmen kampus untuk memperbaiki manajemen UMRAH tersebut. Tuntutan pada unjuk rasa 12 Februari lalu sudah dipenuhi. Bahkan, pihaknya telah melayangkan permintaan maaf yang terbit di media nasional, Republika.

"Ini kan masalah orangtua sama anak saja. Jadi, ada sedikit miskomunikasi. Tadi saya sudah hadir, tetapi mereka tidak memberikan saya kesempatan untuk menjelaskannya, makanya saya izin untuk masuk," ungkapnya.

Prof Akhlus menjelaskan, sebelumnya mahasiswa meminta pihak kampus untuk transplantasi terkait pengelolaan anggaran di UMRAH. Hal tersebut pun sudah dilakukan dengan mengunggah semua laporan keuangan di website resmi UMRAH Tanjungpinang. Selain itu, mahasiswa juga memintanya untuk mendatangkan menteri dan gubernur ke kampus UMRAH.

"Surat sudah kita sampai ke Menteri dan pak Gubernur, tetapi sampai saat ini belum di balas. Dalam hal ini kan saya dalam posisi menunggu jawab," tuturnya.

Prof Akhlus juga menyinggung terkait dugaan korupsi di UMRAH yang menyeret Wakil Rektor ke meja hijau. "Saya sudah berkali-kali katakan, masalah itu (Korupsi), mari kita serahkan kepada proses hukum yang berlaku. Tidak usah berasumsi. Kita serahkan ke persidangan, yang jelas saya bertanggungjawab," tegasnya.

Terkait tuntutan mahasiswa agar dirinya mundur dari jabatannya, Prof Akhlus mengaku, semua penilaian terkait kinerjanya diserahkan seluruhnya dengan pimpinannya. Menurutnya, jika ia mundur, berarti dirinya tidak bertanggungjawab. "Sebagai pimpinan, saya bertanggungjawab atas semua ini, tetapi setiap tim, punya tanggungjawab masing-masing," pungkasnya.(bet)