Sabtu, 03 Maret 2018, 19:10

Jalan Panjang Menuju Tanah Seberang

BINTAN, POSMETRO.CO : Melangkahkan kaki dari kampung halaman untuk mengadu nasib ke luar negeri tanpa dokumen resmi bukan hal yang mudah. Biaya keberangkatan untuk menyebrang ke negeri Jiran juga membutuhkan pengorbanan uang hingga berjuta-juta. Apalagi, rencana itu gagal di tengah jalan tanpa meraih hasil yang diimpikan.

Inilah secarik kisah pilu yang dialami Rumain, lelaki berusia 45 tahun asal Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB) yang gagal berangkat ke Malaysia. Ia adalah salah seorang dari 27 orang calon Tenaga Kerja Indonesia (TKI) ilegal yang diamankan Komando Distrik Militer (Kodim) 0315 Bintan pada Jumat (3/3) malam.

Malam itu, Rumain tertunduk lesu saat duduk bersama rekannya di Makodim 0315 Bintan. Ia dan 26 teman lainnya diamankan Kodim di desa Malang Rapat, Kecamatan Gunung Kijang, Kabupaten Bintan. Kala itu, mereka baru selesai menyantap makanan yang telah disediakan pihak Kodim.

Rumain sempat bercerita tentang perjuangannya hingga sampai ke tanah Melayu, Pulau Bintan, Kepulauan Riau. Dari Lombok, ia terbang menggunakan pesawat menuju Batam. Namun, dalam perjalanan, ia bersama beberapa orang lainnya itu sempat transit di Bandara Internasional Juanda, Surabaya.

"Lumayan lama untuk tiba di sini (Pulau Bintan)," kata Rumain saat ditemui POSMETRO. Ia juga menuturkan, biaya untuk sampai ke Bintan juga tidak sedikit. Ia merogoh koceknya hingga hampir Rp5 juta. Pengorbanan itu ia lakukan karena dirinya mengaku ditawarkan kerja di Malaysia dengan gaji yang lumayan. Namun, ia tidak tahu besar pastinya. Atas dasar itu, ia berani melangkahkan kakinya untuk meninggalkan kampung halamannya.

"Tiket ke Batam saja sudah mahal, sedangkan dari Lombok ke Surabaya saja sudah kisaran Rp1,5 jutaan, sampai Batam dimintai lagi Rp2 juta sama orang itu (Penampung) lalu menyeberang ke Tanjungpinang menggunakan kapal," ujar Rumain.

Ia juga mengaku, tiba di Bintan pada Minggu, 25 Februari lalu. Setiba di pelabuhan Sri Bintan Pura Tanjungpinang, ia dijemput oleh seseorang yang dia sendiri tidak kenal. Ia lalu dibawa menuju ke salah satu tempat penampungan di tempat mereka diamankan tersebut.

"Saya sudah 5 hari disitu, tinggal bersama, tapi disitu ada juga yang baru datang. Saya pun tidak tahu teman lainnya, kami itu ketemunya disitu," tuturnya.

Rumain menerangkan, bahwa ketertarikan ia untuk bekerja di Malaysia karena mendapat tawaran dari temannya yang ada di Malaysia. Jika perjalanan ke Malaysia mulus, maka dirinya dipekerjakan menjadi petani Sawit. Sebab, di Lombok, pekerjaan sulit untuk didapatinya.

"Saya disuruh ke sana (Malaysia). Dari kampung, saya juga tidak bawa apa-apa (Dokumen), rencananya langsung diberangkatkan tanpa paspor," katanya.

Pengalaman ini membuat Rumain sadar. Bahwa segala sesuatu yang salah pasti ketahuan. Namun, ia menjadi kasus ini sebagai pelajaran untuk kedepannya. "Karena saya memang tak tahu prosedurnya, kalau kami dijemput di pelabuhan, ya kami ikut saja," pungkasnya.

Sementara itu, Komandan Kodim 0315 Bintan, Letkol Infanteri Ari Suseno menjelaskan, bahwa ke 27 calon TKI ilegal itu diamankan di desa Malang Rapat, Bintan. Hal itu dilakukan atas laporan masyarakat setempat kepada Babinsa. Mendengar laporan itu, ia langsung perintahkan anggotanya untuk menjemput para calon TKI ilegal tersebut.

"Kita mendapatkan informasi bahwa akan ada pengiriman TKI ilegal, kita langsung bergerak, mengamankan mereka ke Makodim," ujarnya.

Ari menuturkan, dari 27 orang itu, terdiri dari 23 laki-laki dan 4 orang perempuan yang berasal dari Lombok, Jawa Timur, Aceh dan lainnya. Menurutnya, ke 27 para TKI ilegal itu bisa dikatakan pelaku, namun juga bisa dikatakan korban. Karena, mereka sendiri memang tidak memahami prosedur untuk menjadi calon TKI ke Malaysia.(bet)