Minggu, 04 Maret 2018, 09:41

Seram, Ada Sendok, Pisau, Engsel, dan Paku Dalam Perut Pemuda Ini

KUTAI, POSMETRO.CO : Kondisi Jahrani sungguh memprihatinkan. berbagai benda berbahaya bersarang di perut pria 24 tahun itu.

Di antaranya, sendok, kantong plastik, engsel, paku, hingga pisau. Jumrah, ibunda Jahrani, hanya bisa pasrah melihat kondisi anaknya.

Tim medis dari RSUD Abdul Wahab Sjahranie, Samarinda, Kalimantan Timur, juga tidak kalah heran.

Jumrah mengatakan, semuanya berawal ketika anaknya mengeluh sakit di saluran pencernaan pada 2015 lalu.

Warga Desa Loa Duri Ilir, Kecamatan Loa Janan, Kutai Kartanegara, itu lantas membawa Jahrani ke rumah sakit untuk dirontgen.

Hasilnya, ada benda mirip sendok di perut Jahrani. Dokter kemudian memberi obat pencahar agar benda asing itu keluar lewat buang air besar.

Namun, sampai beberapa hari kemudian, perut Jahrani tetap sakit. Dia dirontgen lagi.

Sendok sudah tidak ada. Namun, benda asing yang ditemukan lebih banyak lagi. Ada yang berbentuk stik es krim, sedotan, hingga tas plastik.

Tim dokter RSUD AW Sjahranie memutuskan membawa Jahrani ke meja operasi setelah pemuda malang itu dirawat selama 18 hari.

Hasilnya sungguh mengejutkan. Jumrah dan tim dokter kaget melihat benda-benda tadi dikeluarkan dari perut anaknya.

"Semua benda itu masih utuh,” kenang Jumrah sebagaimana dilansir Prokal, Sabtu (4/2).

Pada April 2016, Jahrani akhirnya dirujuk ke RSJD Atma Husada Mahakam Samarinda karena diduga mengalami gangguan kejiwaan.

Setelah dirawat 15 hari, Jahrani terus-menerus mengeluhkan sakit di perut.

Dia kembali dirontgen. Tim medis menemukan paku di saluran pencernaan Jahrani.

Jahrani pun dioperasi lagi di RSUD AWS. Kali ini, benda yang dikeluarkan dari perutnya lebih ekstrem.

Jahrani diketahui telah memakan engsel, paku, baut, dan pengupas buah.

Kejadian itu terus-menerus berlangsung sampai Januari 2018. Tim dokter tiga kali mengambil tindakan endoskopi.

Dokter mengeluarkan benda asing di tubuh Jahrani melalui mulut.

Kali ini, isi perut Jahrani adalah peralatan dapur seperti garpu, sendok, dan pisau.

Sebagai pemuda dewasa, Jahrani menyadari perbuatan tak biasa, yaitu memakan benda-benda yang tak semestinya dikonsumsi.

Karena itu, sejak enam bulan terakhir, Jahrani meminta kamarnya dibuat seperti penjara. Dia memilih dipasung.

“Orang tua mana yang tega melihat anaknya seperti itu. Permintaan itu terpaksa kami turut,” tutur Jumrah.

Selama enam bulan terakhir, Jahrani melewati hidup di dalam pasungan.

Dia selalu disuapi ibunya. Jahrani harus buang air kecil di botol. Dia juga selalu diawasi saat mandi.

Jahrani tinggal bersama kedua orangtua dan satu adik laki-laki. Keluarga kecil itu menetap di rumah kayu berukuran 5x5 meter, tak jauh dari Pasar Loa Duri.

Jumrah menuturkan, dia dan suaminya, Ardani, mengurung Jahrani demi kebaikan sang anak. (jpg)