Sabtu, 10 Maret 2018, 09:40
Pengusaha Praperadilan Dua Instansi

Tergugat tak Hadir, Sidang Ditunda Seminggu

BATAM, POSMETRO.CO : Hari pertama sidang gugatan praperadilan Yohanes Juko Suwarno terhadap instansi Ditpolair dan Bea Cukai terpaksa ditunda, dikarenakan kedua tergugat tidak hadir dalam persidangan yang di mulai Jumat (9/3) pukul 09.15 WIB. 

Suasana ruang sidang yang digelar di Pengadilan Negeri Batam, terlihat sepi hanya Majelis hakim, Penegak Hukum Yohanes, dan beberapa wartawan media televisi, cetak dan online.

"Karena pihak yang tergugat tak menghadiri persidangan ini, maka jadwal sidang ditunda selama seminggu," ujar Majelis Hakim yang memimpin persidangan Taufik Abdul Halim Nainggolan sambil mengetok palu. 

Majelis Hakim juga menunjukkan surat pemanggilan Pol Airud dan Bea Cukai tersebut, kepada penegak hukum Yohanes. Sebagai bukti bahwasanya pihak pengadilan telah memanggil yang tergugat.

Tak terlihat juga kehadiran Yohanes dalam persidangan tersebut. Dirinya diwakili oleh kuasa hukumnya, Agus Amri.

"Saya sangat menyayangkan ya ketidakhadiran kedua pihak tersebut. Agar persoalan ini cepat selesai," ujar Amri dengan wajah kecewa seusai persidangan ditutup oleh majels hakim.

Ia juga bercerita tadinya penegak hukum, Anang Yuliardi yang sekarang posisinya berada di Jakarta ingin menyusul menghadiri persidangan di Batam. Namun ia memberitahu Anang tak perlu ke Batam karena persidangan ditunda selama seminggu.

Agus Amri mengatakan, kedua instansi ini digugat setelah melakukan penggeledahan dan penyitaan terhadap barang dagangan milik Yohanes tanpa dasar dan surat yang jelas. 

Agus Amri menilai gugatan ini dirasa perlu karena pihak tergugat telah melakukan tindakan yang tidak memiliki dasar hukum. 

"Pihak Ditpolair melalukan penggeledahan dan penyitaan terhadap barang dagangan klien kami tanpa dasar yang jelas. Tidak ada surat perintah dan surat penyitaannya. Jadi, penggeledahan dan penyitaan ini tidak sesuai prosedur. Makanya kami melayangkan gugatan pra peradilan untuk itu," kata Anang  Jumat (9/3) di Pengadilan Negeri Batam. 

Anang menjelaskan, tanggal 19 Februari lalu siang, kliennya tengah membongkar barang dagangan berupa kaos kaki, cutton bad, lilin dan lainnya sebanyak 720 koli di lahan miliknya yang terletak di Desa Sembulang Camping, RT 002 RW 002, Kecamatan Galang. Malamnya sekitar pukul 19.00 WIB, sejumlah anggota Ditpolair Polda Kepri mendatangi lokasi penyimpanan tersebut dan melakukan penggeledahan. 

"Kita tanya, dasarnya menyita apa dan mereka menjawab bahwa ini barang temuan. Lalu kita minta tunjukkan surat perintahnya, mereka tidak bisa menunjukkan. Dan barang milik klien kami langsung dibawa ke kantor Polair," katanya. 

Setelah sempat mengamankan barang dagangan senilai Rp400 juta tersebut, pihak Ditpolair melimpahkan barang-barang tersebut ke pihak Bea Cukai. 

"Dan kami mendapatkan informasi, barang ini sempat ditolak oleh BC beberapa kali saat akan dilimpah oleh Polair. Tapi terakhir kali, diterima juga pelimpahan itu," kata Anang. 

Anang mengaku sangat menyayangkan sikap Ditpolair dan Bea Cukai. Terlebih, kliennya telah berulang kali memastikan bahwa barang dagangannya tersebut bukan merupakan barang selundupan atau ilegal.

"Kami juga sudah mendatangkan penjual barang tempat klien kami membeli barang-barang itu. Dan penjual ini juga sudah menjelaskan ke mereka bahwa barang ini bukan barang-barang ilegal," pungkasnya. (abg)