Senin, 12 Maret 2018, 14:24
Modus Baru  'Tuyul'  Rekening

Warga Batam Harus Waspada: Data Pribadi Nasabah Bocor, Penipu Bobol Rekening BRI

 

BATAM, POSMETRO.CO: ''Hallo, selamat siang saya dari Bank BRI mau mengotentikasi rekening Anda. Benar nama Anda ... (menyebut nama) dengan nomor rekening ....,'' tanya seorang laki-laki dari sambungan telepon seluler kepada Arya, nama panggilan seorang nasabah Bank Rakyat Indonesia (BRI), Kamis (8/3) siang.

Arya pun mengiyakan meskipun dia sendiri tak ingat nomor rekeningnya. Lalu, penelpon itu membacakan identitas nasabah, mulai dari nama, tempat tanggal lahir, alamat, agama, dan nama ibu kandung. ''Karena semua identitas yang disebutkan itu benar, maka saya yakin benar kalau penelepon dari Bank BRI,'' kata Arya.

Penelpon itu pun minta waktu untuk mengontetikasi rekening korban. Ia mengatakan, akan ada pemberitahuan melalui SMS ke nomor HP Arya kode otentikasi dari Bank BRI yang harus disampaikan ke penelpon. Dia juga minta tiga digit kode ATM korban. Betul, tak lama kemudian masuk SMS dari Bank BRI berisi kode otentikasi berisi enam angka. Kode itu berlaku lima menit.

Korban yang tak curiga karena yakin kalau penelepon memang orang BRI itu pun langsung menyebutkan kode otentikasi itu hingga 10 kali. ''Dia neleponnya cukup lama sekitar 15 menitan. Dia bilang kita suruh bersabar karena kode otentikasi itu yang mengirim mesin. Tapi setiap keluar kode otentikasi dia selalu tahu, dan disuruhnya kita segera menyebutkan enam angka itu,'' ujarnya seraya menyebut nomor HP pelaku, 082186809244.

Setelah kode yang ke sepuluh, si penelpon itu pun kemudian bilang kalau otentikasi sudah berhasil. Kemudian kembali si penelepon memverifikasi lagi data-data korban. ''Orangnya sopan, suaranya bagus. Seperti costumer service lah pokoknya. Dua kali dia verifikasi data nasabah. Di awal dan di akhir telepon. Si penelpon pun sempat juga mengucapkan terimakasih sudah meluangkan waktu untuk otentikasi,'' kata korban.

Hanya saja, setelah kode 6 digit itu disampaikan, di SMS banking Bank BRI milik korban itu muncul kode transaksi debet senilai Rp500 ribu sebanyak enam kali. Karena tak paham debet kredit, korban pun menanyakan ke kawannya. Kalau ada transaksi debet itu menambah atau mengurangi. Kata kawannya, kalau debet itu menambah. Maka korban pun santai saja.

Malamnya, korban iseng melihat lagi SMS banking dari Bank BRI itu. Setelah dilihat-lihat, saat ada transaksi uang masuk ke rekening, pemberitahuan dari SMS banking justru kredit, sedangkan saat ia mengambil uang, transaksinya jadi debet. Karena curiga, korban pun langsung mengecek melalui saldo tabungannya melalui aplikasi BRI di HP-nya. Benar saja, ternyata uang di rekeningnya sudah amblas Rp3 juta lebih.

Menurut korban, awalnya ia tidak curiga sama sekali kalau dirinya menjadi korban kejahatan cyber. Soalnya, sudah semingguan SMS bankingnya tak berfungsi. Biasanya, setiap ada transaksi selalu masuk ke SMS banking. Makanya, saat tiba-tiba ada telepon dari orang yang mengaku dari Bank BRI, dirinya langsung percaya. ''Kita percaya, bisa jadi SMS banking tak berfungsi mungkin karena minta otentikasi,'' ungkapnya.

Satu lagi yang membuatnya yakin, saat penelepon itu dengan lancar dan benar menyebutkan identitas korban. ''Dia tahu nama, alamat, RT RW, tempat tanggal lahir, agama saya dan nomor rekening saya. Yang paling yakin lagi, saat orang itu menyebut nama ibu kandung saya dengan benar,'' herannya.

Menurutnya, selama ini ia tak pernah memasukkan data soal ibu kandung kecuali saat mengurus e-KTP dan urusan perbankan. ''Dari mana dia tahu nama ibu saya. Ini yang membuat saya heran. Anak saya saja tak tahu nama neneknya, tahunya panggil eyang putri saja. Eh, ini ada penjahat bisa tahu data-data pribadi kita. Sampai ke hal yang paling privat,'' ujarnya, seraya mengaku dirinya tak pernah transaksi belanja online.

Korban geram karena data pribadinya bisa bocor ke tangan penjahat. Padahal, data-data pribadi itu harusnya dirahasiakan. ''Saya tak tahu siapa yang bocorkan ini. Saya tidak menuduh pihak bank, tapi kasus ini harus diselidiki. Apakah kebocoran itu dari data kependudukan, registrasi kartu prabayar, atau dari banknya. Yang jelas ini bahaya kalau sampai data-data seperti ini bisa bocor. Harus ada yang bertanggungjawab,'' tegasnya.

Untuk memastikan apakah memang benar dirinya menjadi korban 'tuyul' ATM, Arya pun langsung mendatangi Bank BRI di Batamcenter, Jumat (9/3). Kepada Costumer Service korban pun menceritakan apa yang dialaminya. Pihak Bank pun kemudian memprosesnya dan melaporkan kejadian itu ke kantor pusat BRI di Jakarta.

Hanya saja menurut pihak Bank BRI, bukan mereka yang membocorkan data identitas nasabah. Bisa jadi, memang ada orang yang senagaja mencatut nama BRI untuk melakukan tindak kejahatan. Hanya saja, pihak Bank tak tahu darimana data-data pribadi nasabah yang mestinya menjadi rahasia bank itu bisa jatuh ke tangan penjahat.

Informasinya, penipuan seperti ini adalah modus baru penjahat penyedot rekening tabungan bank. Untuk di Batam, kasus ini baru pertama kali terjadi yang melapor ke BRI. Tapi untuk daerah lain di Indonesia sudah banyak. Untuk itu, masyarakat diminta untuk berhati-hati dengan uang yang ada di rekeningnya. Karena 'tuyul' rekening bank modus baru ini mulai gentayangan di Batam.

Eddy Iskandar, AMO Kantor Cabang Bank BRI Batam Center yang dikonfirmasi POSMETRO, membenarkan soal modus baru penipuan itu. Untuk itu, pihak BRI telah mensosialisasi ke nasabah agar mengabaikan SMS soal kode otorisasi atau kode OTP (6 digit angka sebagai kode transaksi) seolah-olah melakukan transaksi online. ''Ini tidak hanya terjadi di BRI tapi juga bank lain,'' katanya menjawab POSMETRO.

Sementara korban berharap agar kasus ini ditindaklanjuti. Para otoritas pengambil kebijakan harus menyelidiki sampai tuntas, bagaimana bisa data pribadi warga negara bisa dibobol orang yang tak bertanggungjawab. Jika kasus ini tidak diusut tuntas, maka ditakutkan akan banyak jatuh korban.

''Saya minta segera diusut. Bagaimana orang bisa tahu data-data pribadi kita. Sangat aneh darimana mereka dapat data-data itu. Kalau orang sudah tahu data-data kita, modus operandi penipuan pasti akan berubah-ubah dan selalu ada modus baru. Ini berbahaya buat kita sebagai nasabah bank. Saya minta jangan ada lagi korban, sehingga masyarakat tetap percaya untuk menyimpan uangnya di Bank,'' harap korban. (sya)