Senin, 12 Maret 2018, 14:48

Siswa SMA Negeri 19 Batam Unjuk Rasa, Minta Kepala Sekolah Dicopot

BATAM, POSMETRO.CO : Siswa Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri 19 yang berlokasi di Tunas Regency, Kecamatan Sagulung melakukan unjuk rasa. Penyampaian aspirasi siswa yang berlangsung Senin(12/3) pagi, mengundang perhatian Kepala Dinas Pendidikan(Kadisdik) Provinsi Kepri serta Polsek Sagulung.

Informasi yang dirangkum POSMETRO, demo tersebut di sinyalir karena adanya penyimpangan masalah uang kutipan bantuan sosial. Dalam demo tersebut, siswa meminta supaya kepala sekolah SMA 19, Nelly, dicopot dari jabatannya. Siswa SMA 19 menjelaskan, setiap ada kutipan atau bantuan sosial yang akan di berikan kepada siswa kemalangan, itu tidak sampai, bahkan sebagian bantuan sosial itu di sampaikan setengah dari kutipan bantuan sosial.

"Sudah empat kali kami mengumpulkan uang untuk membantu orang yang berduka, tapi uang tersebut ada yang sampaikan dan ada juga yang tidak sampai. Sebagai contoh, uang hasil kutipan ada Rp 200 ribu, yang disampaikan hanya Rp 100 ribu," ungkap siswa yang tak mau di sebut namanya.

Selain itu, kepala sekolah di tuding pilih kasih. Saat melakukan rapat komite sekolah, kepala sekolah SMA 19 hanya memanggil sebagian orang tua siswa, harusnya itu tidak di pilih-pilih.

"Kita juga berpikir, ada apa dengan sekolah itu. Rapat komite saja harus di pilih-pilih," ungkap.

Unjuk rasa ini juga menyebut, SPP (Sumbangan Pembinaan Pendidikan) di SMA 19 pernah mencapai Rp200 ribu. Karena itu, siswa merasa terbebani dan akhirnya SPP itu diturunkan menjadi Rp 135 ribu.

Namun unjuk rasa yang di lakukan oleh siswa kelas XI ini berhasil diredam oleh pihak kepolisian. Mereka pun di bubarkan. Sedangkan untuk kelas X tidak ikut dalam aksi unjuk rasa lantaran mereka masuk siang. Begitu juga dengan kelas XII, mereka sedang melakukan ujian try out.

Ujung dari unjuk rasa ini, ketua Osis serta wakilnya harus dibawa ke kantor Kepolisian Sektor Sagulung untuk di mintai keterangan. Karena itu, siswa yang lain meminta supaya kepolisian segera melepaskan rekan mereka.

Menanggapi masalah ini, kepala sekolah SMA 19 Batam, Nelly menyebut semua tuduhan siswa tidak benar. Ia juga terkejut dengan tingkah laku siswa yang tiba-tiba melakukan aksi demo.

"Bantuan sosial bagi siswa yang mengalami kemalangan sudah kita berikan. Tapi saat pemberian itu, kami pernah mengulur waktu, soalnya orang tua siswa tersebut sedang bekerja, jadi siswanya meminta supaya mengambil waktu yang tepat," ungkapnya.

Untuk masalah SPP yang mencapai Rp 200 ribu, Nelly menyebut itu tidak benar. Hingga saat ini, SPP di SMA 19 Batam masih Rp 135 ribu. Namun sebelumnya, ada wacana bahwa SPP itu akan naik menjadi Rp 200 ribu. "Itu masih wacana, tapi belum pernah di terapkan. Saya pribadi juga sangat menolak jika SPP mencapai Rp 200 ribu," tuturnya. (jho)