Kamis, 15 Maret 2018, 16:19

Pedagang Meradang Di Ruangan DPRD Tanjungpinang

PINANG, POSMETRO.CO : Puluhan pedagang asongan dan pedagang kali lima (PKL) yang berjualan di sekitar taman Laman Boenda Tapi Laut, meradang saat mendatangi kantor Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Tanjungpinang, Kamis (15/3). Pasalnya, tidak satupun anggota dewan yang menganggapi kedatangan mereka yang saat itu hendak melakukan audiensi terkait pelarangan berjualan di taman tersebut. 

Pantauan POSMETRO dilapangan, puluhan pedagang tersebut datang bersama-sama ke kantor DPRD Kota Tanjungpinang di Senggarang untuk mengadu terkait nasibnya. Mereka diagendakan akan melakukan audiensi kepada komisi II pada pukul 09.00 WIB. Namun, hingga pukul 10.00 WIB, tidak satupun anggota dewan yang menghampiri mereka.

Hal ini membuat emosi para pedagang. Ditambah, saat mereka hendak hengkang dari kursi dewan, emosi mereka semakin memuncak, karena sejumlah pegawai di sekretariat dewan saat itu tersenyum sembari tertawa. Hal itu membuat mereka tersinggung, karena dianggap meremehkan kepentingan mereka.

Bahkan, salah seorang ibu-ibu menangis lantaran terharu melihat sikap anggota dewan pegawai itu yang menghiraukan nasib mereka yang saat ini kesulitan mencari nafkah. "Kami ini bukan meminta, kami hanya mengadu nasib, karena kami tidak boleh lagi berjualan. Di dewan inilah tempat kami mengadu, sama siapa lagi," ujar salah seorang pedagang yang bercucuran air mata.

Hal yang sama juga dituturkan Mahyar atau sering disapa Boru. Menurutnya, sejatinya dewan harus mendengarkan jeritan rakyat yang ada di bawah. Sebab, sudah hampir sebulan lamanya, puluhan pedagang yang biasa berjualan di sekitaran taman Laman Boenda tidak berdagang setelah ditertibkan oleh Satpol PP Kota Tanjungpinang atas perintah Penjabat Wali Kota Tanjungpinang, Raja Ariza.

"Coba pakai hati nuraninya, kami pedagang asongan, kami bukan permanen, kami pun naik motor, tidak kumuh, karena kami pandai menjaganya, tolong jangan usir kami, kekmana perut, dan anak kami bisa sekolah," tuturnya.

Dikatakan Boru, puluhan pedagang itu hanya meminta pemerintah untuk memahami kondisi perekonomian saat ini yang kian sulit. Zaman sekarang, katanya, orang kaya semakin kaya dan orang miskin semakin miskin. Bahkan, mereka berjualan di sekitar taman itu murni hanya untuk mencari makan dan biaya anaknya sekolah.

"Kami sedih, jangan diperlakukan macam binatang. Kami ini tak tahu Perda, makanya kami cari uang untuk anak kami sekolah biar pintar, kami pun tidak minta-minta, kami sadar kami masih sehat, kami usaha, kami juga tidak ingin anak kami nasibnya seperti kami," tuturnya.

Boru berharap, dewan mampu memberikan solusi kepada para pedagang di taman tersebut. Sehingga, mereka kembali berjualan di sekitar taman Laman Boenda Tepi Laut seperti biasanya. "Kalau tak bisa dengar jeritan rakyat, berarti dewan tak ada guna," ujarnya.

Sementara itu, koordinator PKL Laman Boenda, Jo menuturkan, rencananya agenda pertemuan antara pedagang dengan dewan sebenarnya sudah direncanakan pukul 09.00 WIB setelah pihaknya mengirimkan surat ke Sekwan. Dalam surat itu, tertulis rencana pedagang untuk melakukan audiensi untuk memecahkan permasalahan-permasalahan yang dialami mereka saat ini.

"Kami memperjuangkan nasib para pedagang, karena sebulan yang lalu, Satpol ngomong kasar, sehingga sampai hari ini tidak diizinkan berjualan. Tapi hari ini tidak ada satupun dewan yang datang, katanya dewan keluar," tuturnya.

Sebulan yang lalu, kata Jo, alasan Satpol PP melarang puluhan pedagang itu karena melaksanakan tugas penertiban berdasarkan Perda yang ada. Sehingga, pedagang yang hendak berjualan akan terancam lantaran anggota Satpol PP tidak segan melakukan penertiban serta mengangkut semua barang milik pedagang tersebut.

"Mereka hanya menertibkan Perda, rapi tidak memberikan solusi. Diusir saja, karena orang awam melihat orang berseragam, takut. Tapi kalau melihat orangnya tidak takut, karena ini masalah perut," tegasnya.

Untuk itu, kata Jo, para pedagang berencana akan melakukan komunikasi kembali dengan DPRD Kota Tanjungpinang. Jika kedepannya juga masih tidak ditanggapi, maka puluhan pedagang akan menggelar aksi unjuk rasa di kantor DPRD Kota Tanjungpinang.

"Kita akan menyampaikan aspirasi ini kepada dewan. Saat ini untuk hidup, kami jualan kucing-kucingan dengan Satpol PP," pungkasnya.(bet)