Rabu, 21 Maret 2018, 14:14

Sang Ibu Tersungkur Dari Kursi Sidang Dengar Hukuman Diterima Anaknya

PINANG, POSMETRO.CO : Ruang sidang Pengadilan Negeri (PN) Tanjungpinang pada Selasa (20/3) malam dengan agenda pembacaan putusan terhadap empat terdakwa perkara narkotika, yang merupakan oknum anggota Polres Bintan seketika riuh. Sosok perempuan tua tersungkur dari kursi tempat ia duduk. Ia pun histeris saat mendengar anaknya, salah satu dari keempat terdakwa, dihukum selama 72 bulan penjara.

Perempuan itu adalah ibu kandung dari terdakwa Tomy Adriadi Silitonga, mantan anggota Satuan Reserse Narkoba Polres Bintan. Tomy bersama dua temannya, Indra Wijaya dan Joko Arifonto serta mantan Kasat Narkoba Polres Bintan, AKP Dasta Analis terjerat kasus penggelapan barang bukti sabu seberat 500 gram.

Sebelum berlangsungnya persidangan, Selasa siang, ibu Tomy sudah tak bisa membendungkan air matanya. Di kursi pengunjung yang berada di luar ruangan sidang, tangisan ibunya sudah mulai terdengar. Matanya memerah. Sesekali ia mengepalkan kedua tangannya seakan tak rela menyaksikan hukuman yang dijatuhkan majelis hakim ke anaknya tersebut.

Sinar mentari mulai menguning. Sidang putusan pun mulai digelar. Namun, sebelum majelis hakim tiba di ruangan, keempat terdakwa sudah berada di ruangan sidang. Ibu Tomy duduk tepat dibelakang Tomy, kursi deretan kedua sebelah kanan ruang sidang Cakra. Lagi-lagi, tangis harunya tak bisa ditahan. Kedua tangannya kembali mengepal erat. Air matanya pun bercucuran.

Tiga orang hakim pun memasuki ruangan persidangan. Majelis hakim yang diketuai oleh Asep Sopian Sauri dan dua hakim anggota Santonius Tambunan dan Guntur Kurniawan mulai mengetukkan palunya. Kala itu, keempat terdakwa tertunduk saat menanti giliran duduk di kursi pesakitan. Namun, sidang pertama dijalani oleh mantan Kasat Narkoba Polres Bintan, AKP Dasta Analis.

Dari pembacaan putusan tersebut, berdasarkan keterangan saksi dan fakta  persidangan, disebutkan, bahwa Dasta Analis, memberikan perintah secara lisan kepada anggota untuk mengambil, dan menjual narkoba sabu hasil tangkapan kepada beberapa anggotanya. Perintah dilaksanakan beberapa anggotanya, dan sabu yang disimpan di dalam brankas diambil sekitar setengah kilogram. 

Dari fakta persidangan juga yang membuat majelis hakim tidak sependapat dengan pembelaan dari Dasta dan kuasa hukumnya. Majelis hakim menilai penyisihan atau penjualan barang bukti sabu untuk dijual, dan membayar informan atau cepu istilah kepolisian, adalah tidak dapat dibenarkan. Meski beberapa pembelaan Dasta, penyisihan barang bukti pada setiap tangkapan adalah hal yang wajar.

"Kejahatan ini dilakukan secara terorganisir dengan lebih satu orang. Serta menjual juga dilakukan secara rapi, ini merupakan pemupakatan," tegas Asep.

Majelis hakim juga mempertimbangkan hal-hal yang memberatkan Dasta termasuk ketiga mantan anggotanya. Menurut hakim, perbuatan Dasta  CS menurunkan nama baik Polri, khususnya Polres Bintan serta bertengangan dengan tugasnya sebagai penegak hukum. Apalagi Dasta merupakan salah seorang perwira yang menjabat sebagai Kasat Narkoba kala itu.(bet)