Rabu, 21 Maret 2018, 14:27

Roti Cinta dari Narapidana Lapas Tembesi

BATAM, POSMETRO.CO : Meski berstatus narapida, tapi tak menghentikan kreatifitas dan bakat mereka. Sebagai contoh, napi di Lapas Kelas II A, Tembesi, Kecamatan Sagulung, yang memproduksi roti bernama Creativitas Insan Pemasyarakatan (Cinta).

Roti asli buatan wargaan biaan ini tidak kalah enaknya dengan roti produksi di luar Lapas. Untuk pembuatan roti Cinta ini, Lapas sengaja memilih beberapa orang napi yang memiliki kemampuan untuk membuat roti. Alhasil, dari ratusan napi yang ada di sana, 8 orang napi yang terpilih dan dididik sebagai pembuat roti Cinta.

Untuk mengasah skill yang dimiliki napi, Lapas sengaja menghadirkan pelatih pembuat roti dari Bali. Seharusnya, pelatihan tersebut akan berlangsung selama 6 bulan. Namun, napi hanya bisa mengikuti pelatihan selama 1 bulan.

"Kemarin pelatihnya ada halangan, jadi pelatihan untuk juru masak roti ini hanya berjalan 1 bulan, itu berlangsung pada bulan Februari lalu," ucap Dwi Purwanto, pengawas seksi kegiatan kerja di Lapas Kelas II A Barelang.

Meski hanya 1 bulan mendapatkan pelatihan, tapi napi sudah cepat tanggap. Usai pelatihan, mereka bisa memproduksi roti. "Jika saya memilih, saya lebih suka makan roti buatan warga binaan daripada roti yang dijual di luar sana," sebut Dwi.

Dwi menyebut, rasa roti Cinta ini cukup khas. Selain empuk di mulut, roti Cinta juga memiliki banyak rasa seperti rasa coklat, kelapa, kacang ijo dan rasa keju. Untuk awal pemasarannya, warga binaan hanya menjual roti di dalam Lapas.

"Kita memang sudah mulai mengeluarkan roti Cinta ke luar Lapas. Namun yang menjadi kendala kita, roti ini helum ada BPOM nya," papar Dwi.

Sejak di produksi, permintaan roti Cinta di dalam Lapas maupun di luar Lapas cukup tinggi. Untuk satu harinya, Lapas kelas II A Barelang bisa memproduksi sebanyak 500 roti Cinta.

Sementara itu, Udin (30) seorang pembuat roti Cinta menyebut pembuatan roti ini harus benar benar dijiwai. Dengan demikian, roti yang di produksi itu akan benar-benar lezat.

"Pembuatan roti tidak sulit. Intinya, kalau ada kemauan, maka kita bisa memproduksinya," ucapnya. Udin mengaku, sebelum ia masuk Lapas, dirinya memang sudah memiliki skill dalam pembuatan roti. Tapi kemampuan yang ia miliki belum sepurna dan masih butuh pendalaman lagi.

"Melalui pelatihan di Lapas, saya sudah bisa membuat roti. Untuk belajar saja, saya hanya butuh sekali sampai dua kali. Sedangkan ketiga kalinya saya sudah bisa menciptakan roti," ucapnya.

Selanjutnya, Udin berharap supaya roti buatan Lapas ini bisa di kenal di kalangan masyarakat luas. Dengan demikian, mereka bisa membuka usaha setelah keluar dari Lapas. "Skill ini akan di saya gunakan untuk mencari nafkah setelah keluar dari Lapas," tutupnya.

Sementara itu, Surianto Kepala Lapas kelas II A menyebut warga binaan harus kreatif dan memiliki skill. Jika mereka sudah bebas, maka mereka akan memiliki kemampuan untuk melanjutkan kehidupannya.(jho)