Senin, 02 April 2018, 14:42

Natuna Terus Jadi Fokus Pengawasan TNI AL

PINANG, POSMETRO.CO : Perairan Natuna yang merupakan gerbang utara Indonesia, terus menjadi fokus pengawasan bagi TNI Angkatan Laut.

Panglima Komando Armada RI Kawasan Barat (Pangarmabar), Laksamana Muda TNI Yudo Margono menyatakan siap mengamankan dan menghadapi situasi ancaman yang datang secara tiba-tiba (Kontijensi) di Laut Natuna.

Sebelum hal tersebut terjadi, Koarmabar telah mengantisipasi dalam menghadapi kontijensi dengan menggelar Latihan Tempur Laut Tahun 2018 di Perairan Laut Natuna Utara, selama 4 hari dari tanggal 27 Maret sampai dengan 30 Maret 2018 kemarin.

Kegiatan latihan tersebut merupakan gebrakan pertama Laksamana Muda TNI Yudo Margono, dalam mengawali tugasnya sebagai Pangarmabar.

Latihan tempur laut tersebut melibatkan 5 unsur KRI Koarmabar antara lain KRI Abdul Halim Perdanakusuma 355, KRI Cut Nyak Dien 375, KRI Lemadang 632, KRI Clurit 641 dan KRI Alamang 644. Bahkan, Koarmabar juga menerjunkan unsur udara yakni pesawat patroli udara maritim jenis Cassa P-852 serta melibatkan jajaran Lantamal IV Tanjungpinang.

Pangarmabar menjelaskan, bahwa latihan tempur laut tersebut bertujuan untuk mengetahui sejauh mana kesiapan unsur-unsur Koarmabar dalam menghadapi kontijensi yang sewaktu-waktu dapat terjadi di wilayah kerja Koarmabar.

Selain itu, hal tersebut dilaksanakan untuk menguji komando dan pengendalian (Kodal), unsur-unsur dalam pelaksanaan operasi.

"Ini merupakan uji kemampuan dan kesiapan pangkalan dalam mendukung operasional KRI di daerah operasi," ungkap Yudo, Senin (2/4).

Yudo menuturkan, untuk melihat kemampuan itu perlu diuji. Mengingat wilayah perairan barat Indonesia memiliki tantangan dan permasalahan yang komplek dan dinamis. Sehingga kecepatan dan kesiapsiagaan unsur-unsur Koarmabar baik KRI maupun pangkalan dalam mendukung tugas pokok Koarmabar menjadi hal mutlak yang harus dipenuhi. 

"Koordinasi dinamis antar satuan kerja, dalam mendukung tugas pokok menjadi kunci utama keberhasilan dalam operasi," tuturnya.

Dalam latihan tempur laut tersebut, Yudo menerangkan, Lanal Batam dijadikan sebagai pangkalan awal dalam pelaksanaan operasi. Dimana unsur-unsur KRI yang terlibat selama pelayaran melaksanakan serial-serial latihan untuk meningkatkan dan mengasah kemampuan serta naluri tempur para prajurit dan kerja sama taktis dalam sebuah operasi. 

Latihan-latihan tersebut antara lain latihan melewati medan ranjau, latihan pertahanan udara, latihan komunikasi taktis, latihan manuver taktis, latihan air joining prosedur dengan pesawat Cassa TNI AL, latihan Pek Nubika peperangan anti kapal permukaan, peperangan anti udara, simulasi VBSS serta latihan penembakan meriam.

Selanjutnya, kata Yudo, seluruh unsur-unsur KRI bergerak menuju Lanal Ranai sebagai pangkalan aju dalam rangka melaksanakan bekal ulang logistik untuk melanjutkan operasi. Dipilihnya Lanal Ranai sebagai pangkalan aju dikarenakan situasi laut Natuna Utara terjadi konflik oleh beberapa negara kawasan yang menjadikan laut Natuna rawan kejadian pelanggaran wilayah. 

"Kita perlu penegakkan kedaulatan dan hukum di perairan laut yuridiksi Indonesia khususnya Laut Natuna Utara dengan kehadiran unsur-unsur KRI dalam melaksanakan patroli dan upaya legal yang secara persuasif melakukan pengusiran terhadap nelayan-nelayan asing dari wilayah ZEEI," (bet)