Senin, 16 April 2018, 15:05

Setahun, Rata-rata Warga Tanjungpinang Konsumsi 52 Kilo Ikan

PINANG, POSMETRO.CO : Penjabat (Pj) Wali Kota Tanjungpinang, Raja Ariza mengatakan, konsumsi ikan di Kota Tanjungpinang lebih tinggi dari tingkat konsumsi ikan secara nasional, yakni 52 kilogram per tahun untuk satu orang.

Permasalahannya, produksi perikanan di Tanjungpinang dan Kepri pada umumnya, dinilai masih rendah padahal potensi perikanan sangat tinggi.

"Tingkat konsumsi ikan kita 52 kilogram per tahun untuk satu orang, pusat (nasional) cuma 36 kilogram, kita cukup tinggi sekali, apalagi Batam, satu hari bisa 20 ton," kata Raja Ariza saat menghadiri peluncuran penerapan Permohonan Pemeriksaan Karantina (PPK) Online pada Balai Karantina Ikan dan Pengendalian Mutu (BKIPM) Kelas II Tanjungpinang, Senin (16/4).

Menurut Raja Ariza, tingginya konsumsi ikan di Tanjungpinang dan Kepri menjadi tantangan tersendiri pemerintah dan pengusaha perikanan dalam hal penyediaan ikan di pasaran. Sehingga, dalam proses produksi ikan harus ditingkatkan, baik kuantitas maupun kualitas dan mutu.

"Kepri ini sangat kaya, kelemahannya adalah proses penangkapan ikannya kurang, ada sistem penangkapan ikan yang dilarang oleh pusat, makanya kemarin saya sudah sampaikan langsung ke Presiden," katanya.

Menurut Raja Ariza, dari proses penangkapan hingga pengolahan ikan, Kepri masih rendah dibandingkan dengan daerah yang ada di Malaysia.

"Kita kalah dengan Terengganu (Malaysia), mereka itu produksi ikan itu sekitar 1,6 juta ton per tahunnya, padahal laut mereka tidak terlalu luas. Makanya, kita harus menambahkan armada untuk penangkapan ikan di laut," imbuhnya.

Selain itu, tambah Raja Ariza, dalam proses penangkapan ikan hingga proses pendinginan mesti juga diperhatikan. Sejatinya, ikan yang memiliki mutu yang baik itu berawal dari proses penangkapannya. Sejak ikan ditangkap, ikan harus dicuci dengan bersih, sehingga saat tiba di pasar, ikan tersebut siap untuk dijual ke konsumen.

"Jika proses produksi ikan hingga pengolahan sudah baik, maka ikan itu baik untuk di ekspor," ungkapnya.

Untuk mencapai produksi ikan yang maksimal, Raja Ariza menilai ada beberapa hal yang mesti diubah. Menurutnya, selama ini pengusaha perikanan dalam mengurus izin karantina perikanan ekspor dan lain-lain masih diribetkan dengan panjangnya tali perizinan yang harus diselesaikan untuk proses penangkapan ikan dan sebagainya.

"Kita berharap, pengurusan perizinan diselesaikan dengan cepat, tidak perlu tatap muka, tidak perlu menunggu lama-lama, stor sendiri, isi sendiri, nanti langsung keluar surat izinnya. Ini mungkin yang dilakukan Balai Karantina Ikan saat ini," ucapnya.


Sementara itu, Kepala BKIPM Kelas II Tanjungpinang, Felix Lumban Tobing mengaku sangat mendukung proses pengurusan izin sertifikasi karantina ikan diselesaikan dengan singkat, cepat dan transparan. Sebagai wujud komitmen itu, pihaknya saat ini telah meluncurkan program layanan PPK online untuk memangkas panjangnya alur perizinan tersebut.

"Kita sudah launching PPK online, artinya stakeholder itu bisa langsung dari rumahnya untuk mengurus izin, yang penting ada fasilitas internet. Mereka akan kita kasih ID dan Password, jadi sesama stakeholder tidak saling mengetahui data dan mungkin sifat rahasia bisnis lainnya," tuturnya.


Pada layanan PPK Online itu, tambah Felix, masyarakat atau pengusaha bisa mengajukan pengurusan izin sertifikasi karantina ikan, baik itu kegiatan ekspor maupun untuk antar area domestik.(bet)