Kamis, 03 Mei 2018, 16:57

Teriakan Kebebasan Pers Dari Bumi Tanjungpinang

PINANG, POSMETRO.CO : Teriakan kebebasan pers berkumandang dalam prahara berdarah di Namibia, Afrika, 3 Mei 1993. Pekik independesi dan kebebasan pers dari insan jurnalis pemberani kala itu mampu menggetarkan badan PBB (Persatuan Bangsa-bangsa) untuk urusan kebudayaan, UNESCO. Sejarah kebebasan pers lahir. UNESCO kemudian menetapkan aksi itu sebagai Hari Kebebasan Pers Internasional.

Lalu, pergerakan sama merembet hingga ke tanah air. Sejumlah insan pers mencetuskan Deklarasi Sinargalih di Bogor, Jawa Barat pada 7 Agustus 1994 lalu, sebagai bentuk perlawanan konkret jurnalis melawan rezim. Perlawanan lantas melahirkan terbentuknya Aliansi Jurnalis Independen (AJI), sebagai bentuk penolakan monopoli organisasi profesi tunggal yang menjadi perpanjangan tangan pemerintah.

Deklarasi itu juga melahirkan sebuah konsekuensi pahit. Rezim Orde Baru berang. Sejumlah jurnalis: Ahmad Taufik (pendiri AJI), Eko Maryadi, serta Danang Kukuh Wardoyo, dijebloskan ke penjara pada Maret 1995. Mereka menjadi korban dalam perjuangan menyuarakan kebebasan pers di tanah air. 

Empat tahun kemudian, Soeharto dan Orde Barunya tumbang. Kebebasan berekspresi dan kemerdekaan pers kian berkembang menyusul ditetapkannya Undang-undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers pada 23 September 1999.

Setelah 25 tahun peristiwa Namibia, atau 18 tahun Deklarasi Sinargalih disuarakan, kebebasan pers yang diperjuangkan dengan pengorbanan itu belum lagi mampu memerdekakan insan pers secara utuh hingga saat ini. Kebenasan  pers di Indonesia masih jauh tertinggal, berada di ranking 142 dari 180 negara di dunia, sehingga kebebasan pers harus terus digaungkan.

"Setiap jurnalis di Indonesia, khususnya di Tanjungpinang memiliki kewajiban mengampanyekan kebebasan pers," ujar Ketua AJI Tanjungpinang, Jailani saat menggelar aksi damai bersama puluhan jurnalis lainnya di bundaran Pamedan, Kamis (3/5) siang.

Dengan semangat itulah lantas segenap jurnalis yang tergabung dalam AJI Tanjungpinang menggelar aksi, orasi dan melakukan longmarch menyuarakan kebebasan pers di persimpangan lapangan Pamedan tersebut.

Data Aliansi Jurnalis Independen (AJI), terdapat 100 kasus kekerasan terhadap jurnalis Indonesia berlangsung dalam kurun waktu 2006 sampai 2018. Adalah hal naif ketika hingga April di tahun 2018 ini telah terjadi 32 kasus kekerasan dialami jurnalis tanah air.

Kasus serupa tak terkecuali dialami insan pers di Kepulauan Riau. AJI Tanjungpinang mencatat, sepanjang 2016-2018, terjadi 4 kasus kekerasan dan penghalangan terhadap pekerja pers yang bekerja di wilayah Provinsi Kepri diantaranya, kekerasan terhadap wartawan Batamtoday, Tribun Batam, Sindo Batam saat meliput sidang kasus penyeludupan Mikol di Pengadilan Negeri Tanjungpinang (2016).

Kemudian, kata Jailani, kasus kekerasan dan pelaporan wartawan ke polisi karena pemberitaan juga dialami oleh wartawan Koran Peduli di Tanjungpinang. Kekerasan dan intimidasi terhadap wartawan Antara di Natuna saat meliput kegiatan latihan perang tahun 2017 lalu.

"Kekerasan dan pelaporan terhadap wartawan Batamnews ke polisi karena pemberitaan juga dilakukan oleh Ditpam BP Batam," tuturnya.

Terkait ini, kata Jailani, Aliansi Jurnalis Independen Tanjungpinang menyatakan, bahwa pers adalah suara dan milik publik (Pilar Ke IV Demokrasi). Pers dilindungi Undang-undang nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers. Selain itu, jurnalis bekerja profesional dan memiliki kode etik dan menolak penyebaran berita hoaks.

"AJI Tanjungpinang menolak tindakan kekerasan dan kriminalisasi terhadap Jurnalis. AJI Tanjungpinang menolak diskriminasi dan pelecehan seksual terhadap jurnalis (Sexual Harassment)
terhadap jurnalis dan pekerja perempuan dan jurnalis independen dan tidak berpolitik, karena jurnalis bukan tim sukses dan bukan juru kampanye Pilkada," tegasnya.

Usai longmarch, AJI Tanjungpinang juga menggelar diskusi jalanan yang dihadiri oleh Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Tanjungpinang, Robby Patria yang juga mantan wartawan. Kala itu, Robby juga sempat menyampaikan pesan melalui bait-bait puisi yang dibacakan ditengah-tengah puluhan wartawan di lapangan Pamedan.

"Jurnalis adalah profesi yang terhormat, kebebasan pers harus di perjuangkan," pungkasnya.(bet)