Selasa, 15 Mei 2018, 17:00

Makam Sang Wali di Pulau Thulub

DULUNYA, khususnya masyarakat Belakangpadang, hanya mengenal dua buah kuburan yang ada di Pulau Anak Thulub, sebagai kuburan keramat. Karena tak diketahui siapa yang dikuburkan di tempat tersebut. Namun, sekitar empat tahun lalu kuburan tersebut dinyatakan sebagai makamnya dua orang ulama, penyebar agama Islam atau seorang wali, yakni Syekh Syarif 'Ainun Na'im dan Syekh Maulana Nuh Maghrobi.

Dan saat ini Syekh Syarif 'Ainun Na'im lebih dikenal dengan nama Sunan Thulub. Kini pulau tersebut menjadi salah satu tempat ziarah di Batam.
Akhir pekan lalu, Posmentro berkesempatan mengikuti sekolompok jamaah pengajian yang berasal dari salah satu perumahan di Batubesar, datang ke pulau tersebut untuk melaksanakan ziarah kubur. Aktifitas tersebut salah satu kegiatan yang biasa dilakukan, apalagi jelang bulan suci Ramadan.

"Kalau di Jawa dulu kita sering ziarah ke makam-makamnya waliAllah, bukan hanya jelang puasa saja," kata Nasir, salah seorang jamaah.
 Pulau Anak Thulup sendiri masuk wilayah administrasi Kecamatan Belakangpadang, Kota Batam. Letakya berada di utara pulau dengan julukan Pulau Penawar Rindu, itu. Tak ada transportasi reguler berupa perahu pompong atau boat pancung layaknya kalau kita akan ke Pulau Belakangpadang. Untuk sampai ke pulau yang luasnya kira-kira hanya sepelemparan batu itu kita harus menyewa boat pancung. Naiknya sama, di Pelabuhan Pancung, Sekupang, di samping Pelabuhan Ferry Sekupang. Boat pancung dengan kapasitas penumpang 15 orang sewanya pulang-pergi Rp600 ribu. Penambang pancung siap menjemput kapan pun penyewa akan pulang kembali ke Batam.

Saat POSMETRO dan rombongan berangkat, cuaca pagi itu sangat cerah. Laut pun hanya beriak kecil. Sehingga boat pancung yang kami naiki melaju dengan mulus, melewati selat antara Pulau Belakangpadang dan Pulau Sambu. Sebelum berangkat, kepala rombongan sudah menyiapkan segala keperluan selama berada di pulau tersebut. Di antaranya beberapa dus air mineral, cemilan, dan makan siang.  Pasalnya, di sana pulaunya tak ada berpenghuni dan juga tak ada sumber air tawar. Selain itu, rombongan juga membawa dua pokok bibit bunga kenanga.

"Nanti bunga ini kita tanam di sana, sekaligus untuk penghijauan," ujar Roni, salah seorang anggota rombongan. 20 menit kemudian kami pun tiba. Nah, begitu sampai, mata akan langsung tertuju pada kuburan Syekh Maulana Nuh Maghrobi, yang letaknya memang berada di bibir pantai. Karena letaknya yang rawan tersebut, agar tak hilang tersapu ombak ketika air pasang tinggi, maka kuburannya dipugar, dengan menyemennya dengan ukuran lebih besar dan lebih tinggi. Sehingga tahan saat dihantam ombak.

Berjalan sekitar 20 meter ke darat, sebuah gerbang dari coran batu menyambut kedatangan peziarah. Di atas gerbang bertuliskan "Wisata Religius". Pembuatan gerbang tersebut memang belum sepenuhnya selesai. Di sana masih terlihat bahan bangunan menumpuk di sisi kanan gerbang. Ada semen, besi, pasir, koral, dan peralatan tukang lainnya.

Nah, untuk ke makam Sunan Thulub yang berada di puncak pulau, peziarah harus melewati 41 anak tangga. Setelah itu melewati jalan tanah setapak sepanjang kira-kira 30 meter. Setelah itu akan menemukan bangunan berukuran sekitar 8x6 meter yang langsung berbatasan dengan tebing yang cukup curam. Dan dalam bangunan itulah makam Sunan Thulub berada. Makam Sunan Thulup berada di dalam ruangan khusus. Antara ruangan makam dan ruangan utama bangunan  dindingnya dibatasi kaca. Untuk masuk peziarah harus melewati pintu kecil, ketika masuk harus dengan cara menunduk. Di dalam ruangan itulah biasanya peziarah berdoa.

Makam Sunan Thulup juga sudah dikeramik. Makam ditutupi dengan kelambu berwarna hijau yang pinggiran atasnya bertuliskan ayat-ayat Alquran berwarna emas. Di nisan makam tertulis Syekh Syarif Ainun Naim bin Maulana Ishaq. Wafat pada tahun 1503 Masehi. Sedangkan di sebuah plang yang tertancap dekat gerbang masuk tertulis Syekh Syarif Ainun Naim bin Maulana Ishaq lahir di Samudra Pasai pada tahun 761 Hijriah dan wafat pada tahun 842 Hijriah. 

Nasir, salah seorang anggota rombongan mengatakan dari informasi yang dia terima, Syekh Syarif Ainun Naim adalah putra Maulana Ishaq dari Samudera Pasai, Aceh. Syekh Syarif  Ainun Naim merupakan adik dari Syekh Ainun Yaqin (Sunan Giri), satu bapak, tapi lain ibu. Maulana Ishaq adalah paman Raden Rahmat ( Sunan Ampel Surabaya). 

Menurut Nasir, para peziarah bukan hanya saja datang pada saat jelang Ramadan saja. "Hari-hari biasa juga banyak yang datang ke sini," ungkapnya. Sehingga lanjutnya, tempat tersebut terus dibenahi. 

Pulau yang Indah

Pulau Thulub tempat juga bagus. Langsung berhadap-hadapan dengan Singapura. Dari sana terlihat jelas gedung-gedung pencakar langit kota Singapura. Di sana juga dapat melihat langsung lalu lalang kapal-kapal yang melintas di Selat Singapura tersebut. Selain itu, lautnya juga jernih. Pemerintah juga terlihat sudah melindungi pulau tersebut agar tak habis oleh abrasi laut. Beton-beton pemecah ombak sudah dipasang di sisi utara pulau. Memang proses abrasi terlihat mengikis pulau. Tebingnya yang tinggi terlihat runtuh oleh proses abrasi. Sehingga makam Sunan Thulub saat ini persis berada di bibir tebing. Jika tak antisipasi oleh pemerintah dengan cara menambah beton pemecah ombak dan kembali mereklamasinya tak menutup kemungkinan bangunan yang ada di puncak pulau akan ikut runtuh bersama tebing yang menahannya saat ini.(qori)