Selasa, 15 Mei 2018, 22:25

Dilema Developer Ditipu Marketing Rp 16 Miliar

BATAM, POSMETRO.CO : Lukman tidak habis pikir. Rumah yang dibelinya seharga ratusan juta Rupiah sejak empat tahun lalu, hingga kini tak kunjung bisa dihuninya. Jangankan untuk dihuni, bahkan habis lebaran nanti, bersama puluhan warga lainnya yang mengalami nasib sama dengan Lukman, siap-siap harus angkat kaki dari Perumahan Darussalam Residence, Tanjungpiayu, Kecamatan Seibeduk tersebut.

"Pihak developer minta lahan itu dikosongkan dulu," keluh warga yang sementara menetap di Batamcentre itu kepada POSMETRO, Selasa (15/5). Katanya, pihak developer yakni PT Sere Trinitas Pratama ingin duduk kembali bersama konsumen dan membahas nasib ke depan rumah mereka. 

Diakui Lukman, masalah itu mencuat setelah Sam Hwat alias Ameng, bos marketing perumahan dari PT Mardhatillah Indo Perkasa beserta rekanannya Tejo dan Hadi Suyitno, Direktur dan Manajer Pemasaran Yayasan Darussalam Batam itu dijebloskan ke penjara oleh pihak PT Sere Trinitatis Pratama.

Mereka terbukti menipu dan menggelapkan uang konsumen penjualan sebayak 559 unit rumah di Tanjungpiayu tersebut. Satu lagi pelakunya, Ketua Yayasan Darussalam Residence, Abdul Haq, hingga kini masih DPO. Akibat ulah mereka, PT Sere Trinitatis Pratama, merugi sebesar Rp 16 miliar. 

"Kita berharap rumah harus selesai dibangun. Sesuai keputusan di pengadilan beberapa waktu lalu, karena itu kewajiban seorang developer," harapnya. Lukman menilai, terlepas PT Sere Trinitatis Pratama menjadi korban penipuan, setidaknya harus ada tanggungjawabnya selaku developer.

"Tapi seperti apa mekanisme nya nanti, bisa dirembukkan dengan konsumen," tambah pemilik rumah Blok B Nomor 60 itu. Diakui Lukman, sebagai konsumen, posisi mereka juga sangat lemah di mata hukum.

Bahkan DPRD Kota Batam dan sudah melakukan beberapa kali RDP dengan warga hingga sidak ke lokasi, tapi tidak ada titik terang. 

"Kita minta, konsumen menempuh jalur hukum (laporkan kembali Ameng Cs). Jangan menekan kita, kita ini sama-sama korban," ungkap pihak PT Sere Trinitatis Pratama melalui kuasa hukumnya, Palti Siringo Ringo saat dikonfirmasi, kemarin.

Palti menyebut, aset para terpidana masih ada dan bisa menjadi pengganti sebagian uang nasabah yang telah ditilap. Agar tertib administrasi, Palti mengakui sudah mengajukan surat permohonan resmi kepada Ditpam BP Batam untuk mengosongkan lahan tersebut, tertanggal 30 April 2018.

"Karena temuan di lokasi, sebagian besar yang tinggal di sana, tak sesuai dengan kwitansi yang dikeluarkan PT Mardhatillah Indo Perkasa maupun Yayasan Darussalam Residece. Nah kita takut nanti ada persoalan baru yang muncul, makanya kita ingin lahan itu dikosongkan dulu," tegasnya. 

Setelah itu, sambungnya, konsumen bisa menempuh upaya hukum dengan melaporkan kembali Ameng Cs kepada polisi. Dan, pihaknya akan duduk  bersama membicarakan langkah selanjutnya. Diketahui lahan seluas 8,1 hektar itu diperuntukkan sebanya 559 unit rumah. Tapi PT Mardhatillah mengklaim semua unit rumah laku terjual. Tapi kenyataannya yang dibangun masih 79 unit.

"Dari Rp 16 miliar uang hasil penjualan rumah, seribu perak pun kita nggak ada terima. Tapi kita disuruh untuk bertanggungjawab. Ini sungguh dilema," imbuhnya.

Palti menerangkan dalam awal perjanjian kerjasama ini, PT PT Sere Trinitatis Pratama menunjuk PT Mardhatillah sebagai marketing perumahan Darussalam Residence pada tahun 2014 silam.

"Tapi diam-diam Ameng menggandeng subkon Yayasan Darussalam. Kerja sama itu tanpa sepengatahuan Sutikno (Komisaris PT Sere Trinitatis Pratama) dan RUPS," ungkapnya. Sejak gencar memasarkan rumah tanpa bunga dan KPR tersebut, sudah 559 unit yang terjual.

Uang muka bervariasi, ada yang bayar dari Rp 20 juta sampai Rp120 juta. Nah karena tak dapat setoran, PT Sere Trinitatis Pratama 
pun menghentikan pembangunan. Akibatnya, ratusan konsumen menuntut ke pihaknya. (cnk)