Selasa, 26 Juni 2018, 15:15

Dihantam Gelombang 4 Jam, KM Berkat Anugerah pun Tenggelam

NAKHODA Kapal KM Berkat Anugerah, H Aris, ysng berlayar dari Nipah Panjang Provinsi Jambi menuju Batam Provinsi Kepulauan Riau harus terhenti, setelah ribut Barat, gelombang besar dan angin menghentikan pelayarannya setelah kapal di nakhodainya tenggelam bersamaan dengan barang dagangannya, Minggu (25/6)..

Pria kelahiran Nipah Panjang Tahun 1960 dengan tiga ABK membawa kelapa, pisang dan 9 penumpang ingin ke Batam sama-sama kecebur ke laut, 12 dapat di selamatkan dan satu orang meninggal dunia setelah kapal miliknya rusak parah di hantam gelombang selama 4 jam lebih terombang ambing dihantam ombak.

Diceritakannya, KM Berkat Anugerah miliknya berlayar dari Nipah Panjang dengan tujuan Bagan Piayu Batam, dengan membawa pisang dan kelapa sebanyak 15 ton, dengan kapal berbobot 30 ton, tapi malang di Pulau Dato Perairan Pulun Lingga Minggu itu.

Waktu di Pulau Nuja, kata H Aris, cuaca amat bersahabat dan teduh. Ketika keluar dari Nuja, sekitar hampir Pukul 05.00 WIB kondisi angin masih stabil tidak ada riak angin akan berhembus dan gelombang.

Dalam perjalanan, awan tiba-tiba sedikit demi sedikit mulai menghitam, meski perjalanan sudah cukup jauh, dan di perkirakan dalam satu jam tiba di Pulau Cempa Senayang, angin dan gelombang disertai hujan berhembus kencang membuat kapal yang ia nakhodai terombang-ambing selama empat jam sebelum tenggelam.

"Dalam benak saya, tinggal satu jam saja merapat di Pelabuhan Cempa. Ketika cuaca ekstrim itu melanda, tidak mungkin kami harus patah balik, tapi saya arahkan haluan kapal ke tepi, ternyata gelombang makin besar lagi dari kapal yang saya bawa, dan baru saya tahu kalau angin yang turun itu angin Barat," ungkapnya ketika di tanya di Mapolres Lingga, Senin (25/6).

Sebelumnya dia memperkirakan dalam satu jam angin itu akan teduh, tapi apa yang dia perkirakan meleset, ternyata resiko besar yang dihadapinya, kapal pun tenggelam.

"Perkiraan angin dan ombak cuma sebentar saja, nyatanya gelombang kian besar menghadang di sertai hujan angin yang begitu kuat. Kalau pengalaman saya berlayar, kalau kondisi seperti itu tidak ada gelombang lagi, tapi alam berkehendak lain," kata H Aris mengaku berlayar semenjak Tahun 1987 dan rutin di Tahun 1992.

Selama empat jam terhempas odi atas gelombang dan tidak henti-hentinya menghantam kapal miliknya. Melihat kondisi yang tidak menguntungkan tersebut, dia meminta orang-orang yang berada di dalam kapal untuk segera pindah ke atas tenda, karena air sudah sampai ke mesin.

Waktu kapal tenggelam, Sahril ABK KM Berkat Anugerah sedikit menambahkan dan mengaku membantu berusaha memegang tangan almarhumah, kalau di biarkan kemungkinan sudah hanyut terseret gelombang. 

"Saya pegang terus tangannya, sampailah Fery Oceanna menolong kami, hingga kami dapat di naikkan ke feri reguler Batam. Sempat juga waktu saya dapat kelapa, saya pecahkan dan beri dia minum waktu masih dipangkuan saya.Dia sudah tidak bisa lagi berpegangan," kata Sahril, sedikit bercerita.

Terkait dengan perizinan pihaknya telah mengantongi izin-izin yang ada sebelum berlayar dan lengkap semua. Kalau tidak ada Surat Izin Berlayar (SIB) pihaknya tidak berani berangkat. (mrs)