Kamis, 12 Juli 2018, 17:00
Paguyuban Paranormal

Susuk Bukanlah Hal Negatif

PAGUYUBAN paranormal yang berasal dari berbagai daerah mengadakan praktek bersama di Pasar BBC, Kecamatan Sagulung. Praktek tersebut dibuka untuk penyebuhan alternatif berbagai penyakit, baik penyakit medis seperti ambien, encok, asam urat, kanker dan lain sebagainya, hingga penyakit non medis. 

Pelayanan non medis seperti melayani pemasangan susuk serta pengobatan yang berhubungan dengan hal gaib bisa dilakukan di sana. Namun sayangnya, banyak masyakat yang beranggapan bahwa pemasangan susuk itu adalah hal negatif, padahal menurut paranolmal tidak.

Ki Joni Asmoro (Kanjeng Raden Tumenggung Waskito Pandulu) mengatakan, banyak masyakat yang tak paham tentang susuk. Padahal kata susuk sendiri berasal dari tanah Jawa, yang artinya kembali.

"Contonya seperti bayi, ketika bayi baru lahir, maka ia akan terlihat menarik. Kita juga ingin untuk menggendongnya. Jadi susuk juga seperti itu, dia memiliki daya tarik tersendiri," ungkapnya 

Bahkan menurut Ki Joni Asmoro, masyarakat beranggapan bahwa pemakai susuk akan susah matinya, padahal tidak. Bahkan menurut pria yang sudah belasan tahun menekuni praktek itu, tidak ada hubungan susuk dengan kematian.

"Iya, tidak ada hubungan antara susuk dengan kematian, kadang masyakat berpikir demikian," tegasnya.

Ia melanjutkan, susuk ada beberapa macam. Ada susuk yang di tanam di tanah, ada yang di masukkan dalam tubuh (dimakan), ada juga yang ditaruh di pintu dan disimpan dalam keris. Bahkan di negara Thailand, susuk itu hanya dipoles di bagian wajah, itu untuk daya tarik saja.

"Kalau orang takut untuk menelannya, boleh di jadikan sebagi gelang, kalung dan cincin, semua tergantung orangnya," ungkapnya lagi.

Ki Joni Asmoro melanjutkan, selain di dunia para normal, di dunia medis juga ada susuk. Seperti halnya KB (alat yang di tanam di dalam kulit). Hal ini bertujuan untuk menjaga kehamilan.

"Susuk juga ada yang ditanam di dalam tubuh, yakni di antara pembatas daging dan kulit. Hal ini hampir serupa dengan alat KB," jelasnya lagi. Ki Joni Asmoro menyebut, kesimpang siuran masalah susuk ini bisa terjadi karena pasiennya berobat pada orang yang tidak tepat. Padahal pemasangan susuk ini tidak sembarangan. Para normalnya harus memang faham betul tentang susuk.

"Layaknya contoh, ingin memperbaiki motor, tapi orangnya pergi ke bengkel sepeda. Tentu ini tidak sesuai lagi. Jadi kalau pemasangan susuk itu, harus pada orang yang tepat," ujarnya.

Iya juga menegaskan, banyak masyakat yang berpikiran bahwa susuk itu bisa berpindah tempat. Padahal sebenarnya, tak ada susuk yang berpindah pindah. Karena itu, pengambilan susuk ini bisa dilakukan dengan cara medis (operasi). Soalnya susuknya bisa diraba dan diambil kembali

"Kalau paranormalnya sudah tak ada lagi, maka kliennya itu bisa mengambil susuk dengan cara operasi. Sebab, susuk yang dipasang itu tidak akan pindah," paparnya lagi.

Terakhirnya, Ki Joni Asmoro mengatakan selama susuk itu membuat pemasangnyaa lebih baik, maka silahkan dilakukan. Dan sebaliknya juga, jika susuk tidak membuat pemakainya tidak baik, maka jangan memakai susuk. "Jadi kembali kepada orangnya. Yang pastinya, susuk ini tidak ada efek sampingnya dan tidak ada memiliki pantangannya," tutupnya. (jho)